<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Harga BBM Naik, Antrian POM Bensin Membludak!</title>
	<atom:link href="http://www.ridhocyber.web.id/harga-bbm-naik-antrian-pom-bensin-membludak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ridhocyber.web.id/harga-bbm-naik-antrian-pom-bensin-membludak/</link>
	<description>Ridho Story &#124; Blogging For Fun</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 23:16:55 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<item>
		<title>By: Dali</title>
		<link>http://www.ridhocyber.web.id/harga-bbm-naik-antrian-pom-bensin-membludak/comment-page-1/#comment-1214</link>
		<dc:creator>Dali</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 14:25:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.ridhocyber.web.id/?p=180#comment-1214</guid>
		<description>Wualaaahh... ngantri bensin berjam-jam, paling ngiritnya cuma beberapa puluh ribu perak. Gak worth it. Komennya panjang2 dan serius-serius banget ya? Huebat...

Dalis last blog post..&lt;a href=&quot;http://cihuy-cihuy.blogspot.com/2008/06/upgrading-my-blog.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Upgrading My Blog&lt;/a&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wualaaahh&#8230; ngantri bensin berjam-jam, paling ngiritnya cuma beberapa puluh ribu perak. Gak worth it. Komennya panjang2 dan serius-serius banget ya? Huebat&#8230;</p>
<p>Dalis last blog post..<a href="http://cihuy-cihuy.blogspot.com/2008/06/upgrading-my-blog.html" rel="nofollow">Upgrading My Blog</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Alimun Bidatisudur (Ali)</title>
		<link>http://www.ridhocyber.web.id/harga-bbm-naik-antrian-pom-bensin-membludak/comment-page-1/#comment-1201</link>
		<dc:creator>Alimun Bidatisudur (Ali)</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 21:20:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.ridhocyber.web.id/?p=180#comment-1201</guid>
		<description>He..., he... senang nih saya ad respon dari Nuklea...

Menurut Nuklea:
Tapi kenyataan yang terjadi tidak digunakan untuk kegiatan produktif yang menyerap lapangan kerja/padat karya berupa pendirian dan perluasan pabrik, infrastruktur tapi justru dikerjasamakan dengan kaum spekulan yang memainkan saham, valas, reksadana, obligasi, SUN dan instrumen lain termasuk option derivatif yang mengakibatkan economic overheating yang kalau bangkrut bisa mengulang siklus Argentina di tahun-tahun 80-an yang bangkrut.

Respon Ali:
Faktanya apa yang disampaikan Nuklea itu tidak bisa dibantah, demikainlah adanya.  Sebagaimana telah saya sebutkan dalam komentar saya sebelumnya dimana ada sisi negatif dari kebijakan ini yakni ketika tidak disertai dengan sistem pengawasan internal yang kuat pada saat eksekusi kebijakan dilakukan.

Namun kita harus tetap fair dalam hal ini....(tidak disisipi kepentingan sempit partisan partai, yang menyebabkan kita menyembunyikan fakta positifnya secara sengaja atau tidak sengaja, sehingga yang mendapatkan informasi tersebut menjadi terdidik dengan baik)

Pertama, siapapun pemegang pemerintahan dalam kondisi krisis ekonomi pada saat itu, maka akan mengambil kebijakan ini sebagai solusi terbaiknya karena semangatnya dan mekanismenya sebenarnya diarahkan secara tepat...

Kedua, ini kebijakan yang terjadi di masa lalu maka tidak relevan untuk diungkit sekarang dan dijadikan sebagai bahan untuk mendisikreditkan kebijakan pencabutan subsidi BBM (atau saat ini paling tidak pengurangan subsidi BBM)....

Ketiga, Nuklea tidak melihat fakta terkait dengan bahwa tidak semua perbankan menyalahgunakan fungsi sebenarnya dari BLBI dan sebagian besar perbankan masih mampu bertahan hingga saat ini serta masih mampu menyokong kebutuhan sumber pembiayaan alternatif yang diperlukan dunia usaha (selain menerbitkan saham, menahan sebagian laba dan menerbitkan obligasi) setelah mengalami kesulitan likuiditas karena terjadinya kredit macet yang signifikan....  Hal ini terlihat dari dampaknya, dimana sebagian calon tenaga kerja dari lulusan SMA  dan Perguruan Tinggi kita (dalam kondisi sulit setelah krisis ekonomi saat itu) masih dapat diserap dunia usaha...

Keempat: Dengan mampu bertahannya dunia perbankan sampai saat ini, banyak dari kita masih menikmati fasilitas dari produk perbankan (bayangkan jika pada saat itu tidak ada BLBI, apa yang terjadi...).  Sektor usaha apa sampai saat ini yang tidak memanfaatkan jasa perankan, rasa-rasanya susah untuk dinafikkan peran perbankan yang mampu dipertahankan keberadaannya hingga saat ini mampu mengambil peran riil...

Menurut Nuklea:
Penghematan BBM bukanlah soal mengulur nafas, tapi kemampuan untuk mencarikan energi alternatif non fosil. Kalau sekadar dihemat dengan matikan mesin/listrik di mall-mall, istana negara, gedung-gedung pemerintah, perempatan jalan atau pemadaman bergilir ala PLN tak ubahnya menyiram garam di lautan, mengingat konsumsi kebutuhan energi di masyarakat tak bisa dihindari.

Respon Ali:
Tidak ada yang salah apa yang dikatakan oleh Nuklea. Pertanyaannya adalah bukankah pemerintahan saat ini yang mampu merealisasaikan apa yang dikatakan Nuklea itu dalam bentuk kebijakan riil....  Meskipun dalam taraf pelaksanaannya masih banyak kendala yang dihadapi di lapangan sehingga relaisasinya belum terlihat nyata...di samping itu, kebijakan semacam ini kan butuh waktu dan biaya atau modal yang tidak sedikit untuk sampai pada kondisi yang diharapkan....

Pada pemerintahan sebelumnya, wacana tentang energi non fosil hanya berada dalam domain sebagian para ilmuwan kita yang memiliki pemikiran kreatif dan berpikir ke depan...dan kurang mendapat respon dalam bentuk kebijakan riil pemerintah pada saat itu....

Menurut Nuklea:
Harus kita tangkap esensinya bung, ketika 100.000 diberikan ke rakyat yang kemudian dibelanjakan oleh rakyat secara otomatis yang disubsidi adalah stabilitas di pasar, lebih dalam lagi kalau kita cermati adalah justru negara yang mensubsidi orang kaya.

Respon Ali:
Saya sangat mudah memahami pemikiran Nuklea pada kedalaman ini.  Tapi menurut saya, Nuklea terlalu membiarkan pikiran negatifnya berkembang terlalu jauh, ini tidak sehat untuk melahirkan penilaian yang lebih obyektif dan fair.  Obyek BLT adalah orang miskin, maka  yang diperhatikan adalah bagaimana dampaknya terhadap orang miskin, membantu atau tidak (sesuai dengan semangat kebijakan itu dibikin).....sampai di situ dulu. Kalo membantu, ya terjawab sudah....

Persoalan ekses kebijakan, yang dikatakan oleh Nuklea bahwa pada akhirnya BLT yang dicairkan dan diberikan ke rakyat yang kemudian dibelanjakan oleh rakyat secara otomatis yang disubsidi adalah stabilitas di pasar, lebih dalam lagi kalau kita cermati adalah justru negara yang mensubsidi orang kaya.  Memangnya tidak boleh BLT kemudian memiliki dampak lain, yang juga positif (kalo dilihat dengan cara berpikir yang positif, tentunya) yakni mampu menjaga stabilitas di pasar, kan ini berati justru berita baik juga.  karena pasar yang lebih stabil akan memberikan kontribusi yang nyata bagi pengendalian inflasi berikutnya, sehingga penderitaan rakyat tidak berlarut-larut dan tetap memastikan tidak terjadi PHK terhadap buruh.....  Dan lagian, semangat dari kebijakan itu untuk meringankan beban rakyat miskirn kan terealisasi...

Menurut Nuklea:
Kenaikan BBM mau gradual atau sekonyong-konyong 100% ala anda tak menjawab inflasi komulatif pertahun, karena krisis energi telah menjadi kepentingan spekulasi pasar global bahkan disertai kekerasan yang berdarah-darah dalam penyerbuan sekutu ke Irak sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua setelah Arab Saudi.

Sekali lagi saya tegaskan, kalo Nuklea hanya berbicara kenaikan BBM hanya dari BBM, maka hal ini jauh dari pemikiran saya...

BBM adalah salah satu comparative advantages (keunggulan komparatif) yang dimiliki Indonesia dan kita begitu membanggakan kekayaan kita atas BBM.  Tetapi kita lupa bahwa keunggulan komparatif itu tidak dapat bertahan selamannya (non renewable), maka dia (BBM) harus mampu difungsikan sebagai katalisator untuk meningkatkan keunggulan kompetitif (competitive advantages) bangsa ini, misalnya meningkatkan kualitas pendidikan, memperbaiki infrastruktur, mengingkatkan kemampuan pertahanan negara dan lain-lain sehingga akan mampu mempercepat dan memudahkan bangsa ini untuk berdaya guna dan memenangkan persaingan dengan bangsa2 lain. Tidak seperti sebelumnya, BBM hanya diposisikan sebagai buffer (penyokong) perekonomian yang fungsinya dipotimalkan hanya untuk menetralisir dan meredam kondisi perekonomian yang fluktuatif.  

Fungsi seperti ini terbukti tidak efektif, dengan harga BBM yang terus melambung, mengendalikan perekonomian dengan BBM akan memiliki banyak kendala dan keterbatasan...

Dan lagi memposisikan BBM hanya sebagai buffer perekonomian, terbukti sejak kita merdeka sampai sekarang hanya mampu menolong urusan perut rakyat semata...dan sekarang terlihat peran itu mulai sangat sulit dilakukan....

Lain halnya, jika kita memfungsikan BBM sebagai katalisator perekonomian, maka yang terjadi adalah rakyat tercerahkan dengan kualitas pendidikan yang sangat memadai sejak dulu karena dibiayai oleh penjualan BBM dengan harga pasar...

Kalau kita bangga dengan kekayaan alam kita sebagai keunggulan bangsa kita dibanding dengan bangsa lain, dimana letak keunggulannnya bangsa kita itu kalau kemudian kekayaan alam (BBM) dijual dengan harga di bawah nilai ekonomisnya....

Terkait dengan spekulasi pasar global bahkan disertai kekerasan yang berdarah-darah dalam penyerbuan sekutu ke Irak sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua setelah Arab Saudi.

Memang ada indikasi ke arah sana, yang terpenting adalah kita bisa menetralisir dampaknya dan jsutru melihat ini sebagai peluang bagi bangsa kita...Saya tidak mau terjebak membicarakan masalah ekerasan yang berdarah-darah dalam penyerbuan sekutu ke Irak sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua setelah Arab Saudi.


Terima kasih ya, saya tunggu tanggapan berikutnya....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>He&#8230;, he&#8230; senang nih saya ad respon dari Nuklea&#8230;</p>
<p>Menurut Nuklea:<br />
Tapi kenyataan yang terjadi tidak digunakan untuk kegiatan produktif yang menyerap lapangan kerja/padat karya berupa pendirian dan perluasan pabrik, infrastruktur tapi justru dikerjasamakan dengan kaum spekulan yang memainkan saham, valas, reksadana, obligasi, SUN dan instrumen lain termasuk option derivatif yang mengakibatkan economic overheating yang kalau bangkrut bisa mengulang siklus Argentina di tahun-tahun 80-an yang bangkrut.</p>
<p>Respon Ali:<br />
Faktanya apa yang disampaikan Nuklea itu tidak bisa dibantah, demikainlah adanya.  Sebagaimana telah saya sebutkan dalam komentar saya sebelumnya dimana ada sisi negatif dari kebijakan ini yakni ketika tidak disertai dengan sistem pengawasan internal yang kuat pada saat eksekusi kebijakan dilakukan.</p>
<p>Namun kita harus tetap fair dalam hal ini&#8230;.(tidak disisipi kepentingan sempit partisan partai, yang menyebabkan kita menyembunyikan fakta positifnya secara sengaja atau tidak sengaja, sehingga yang mendapatkan informasi tersebut menjadi terdidik dengan baik)</p>
<p>Pertama, siapapun pemegang pemerintahan dalam kondisi krisis ekonomi pada saat itu, maka akan mengambil kebijakan ini sebagai solusi terbaiknya karena semangatnya dan mekanismenya sebenarnya diarahkan secara tepat&#8230;</p>
<p>Kedua, ini kebijakan yang terjadi di masa lalu maka tidak relevan untuk diungkit sekarang dan dijadikan sebagai bahan untuk mendisikreditkan kebijakan pencabutan subsidi BBM (atau saat ini paling tidak pengurangan subsidi BBM)&#8230;.</p>
<p>Ketiga, Nuklea tidak melihat fakta terkait dengan bahwa tidak semua perbankan menyalahgunakan fungsi sebenarnya dari BLBI dan sebagian besar perbankan masih mampu bertahan hingga saat ini serta masih mampu menyokong kebutuhan sumber pembiayaan alternatif yang diperlukan dunia usaha (selain menerbitkan saham, menahan sebagian laba dan menerbitkan obligasi) setelah mengalami kesulitan likuiditas karena terjadinya kredit macet yang signifikan&#8230;.  Hal ini terlihat dari dampaknya, dimana sebagian calon tenaga kerja dari lulusan SMA  dan Perguruan Tinggi kita (dalam kondisi sulit setelah krisis ekonomi saat itu) masih dapat diserap dunia usaha&#8230;</p>
<p>Keempat: Dengan mampu bertahannya dunia perbankan sampai saat ini, banyak dari kita masih menikmati fasilitas dari produk perbankan (bayangkan jika pada saat itu tidak ada BLBI, apa yang terjadi&#8230;).  Sektor usaha apa sampai saat ini yang tidak memanfaatkan jasa perankan, rasa-rasanya susah untuk dinafikkan peran perbankan yang mampu dipertahankan keberadaannya hingga saat ini mampu mengambil peran riil&#8230;</p>
<p>Menurut Nuklea:<br />
Penghematan BBM bukanlah soal mengulur nafas, tapi kemampuan untuk mencarikan energi alternatif non fosil. Kalau sekadar dihemat dengan matikan mesin/listrik di mall-mall, istana negara, gedung-gedung pemerintah, perempatan jalan atau pemadaman bergilir ala PLN tak ubahnya menyiram garam di lautan, mengingat konsumsi kebutuhan energi di masyarakat tak bisa dihindari.</p>
<p>Respon Ali:<br />
Tidak ada yang salah apa yang dikatakan oleh Nuklea. Pertanyaannya adalah bukankah pemerintahan saat ini yang mampu merealisasaikan apa yang dikatakan Nuklea itu dalam bentuk kebijakan riil&#8230;.  Meskipun dalam taraf pelaksanaannya masih banyak kendala yang dihadapi di lapangan sehingga relaisasinya belum terlihat nyata&#8230;di samping itu, kebijakan semacam ini kan butuh waktu dan biaya atau modal yang tidak sedikit untuk sampai pada kondisi yang diharapkan&#8230;.</p>
<p>Pada pemerintahan sebelumnya, wacana tentang energi non fosil hanya berada dalam domain sebagian para ilmuwan kita yang memiliki pemikiran kreatif dan berpikir ke depan&#8230;dan kurang mendapat respon dalam bentuk kebijakan riil pemerintah pada saat itu&#8230;.</p>
<p>Menurut Nuklea:<br />
Harus kita tangkap esensinya bung, ketika 100.000 diberikan ke rakyat yang kemudian dibelanjakan oleh rakyat secara otomatis yang disubsidi adalah stabilitas di pasar, lebih dalam lagi kalau kita cermati adalah justru negara yang mensubsidi orang kaya.</p>
<p>Respon Ali:<br />
Saya sangat mudah memahami pemikiran Nuklea pada kedalaman ini.  Tapi menurut saya, Nuklea terlalu membiarkan pikiran negatifnya berkembang terlalu jauh, ini tidak sehat untuk melahirkan penilaian yang lebih obyektif dan fair.  Obyek BLT adalah orang miskin, maka  yang diperhatikan adalah bagaimana dampaknya terhadap orang miskin, membantu atau tidak (sesuai dengan semangat kebijakan itu dibikin)&#8230;..sampai di situ dulu. Kalo membantu, ya terjawab sudah&#8230;.</p>
<p>Persoalan ekses kebijakan, yang dikatakan oleh Nuklea bahwa pada akhirnya BLT yang dicairkan dan diberikan ke rakyat yang kemudian dibelanjakan oleh rakyat secara otomatis yang disubsidi adalah stabilitas di pasar, lebih dalam lagi kalau kita cermati adalah justru negara yang mensubsidi orang kaya.  Memangnya tidak boleh BLT kemudian memiliki dampak lain, yang juga positif (kalo dilihat dengan cara berpikir yang positif, tentunya) yakni mampu menjaga stabilitas di pasar, kan ini berati justru berita baik juga.  karena pasar yang lebih stabil akan memberikan kontribusi yang nyata bagi pengendalian inflasi berikutnya, sehingga penderitaan rakyat tidak berlarut-larut dan tetap memastikan tidak terjadi PHK terhadap buruh&#8230;..  Dan lagian, semangat dari kebijakan itu untuk meringankan beban rakyat miskirn kan terealisasi&#8230;</p>
<p>Menurut Nuklea:<br />
Kenaikan BBM mau gradual atau sekonyong-konyong 100% ala anda tak menjawab inflasi komulatif pertahun, karena krisis energi telah menjadi kepentingan spekulasi pasar global bahkan disertai kekerasan yang berdarah-darah dalam penyerbuan sekutu ke Irak sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua setelah Arab Saudi.</p>
<p>Sekali lagi saya tegaskan, kalo Nuklea hanya berbicara kenaikan BBM hanya dari BBM, maka hal ini jauh dari pemikiran saya&#8230;</p>
<p>BBM adalah salah satu comparative advantages (keunggulan komparatif) yang dimiliki Indonesia dan kita begitu membanggakan kekayaan kita atas BBM.  Tetapi kita lupa bahwa keunggulan komparatif itu tidak dapat bertahan selamannya (non renewable), maka dia (BBM) harus mampu difungsikan sebagai katalisator untuk meningkatkan keunggulan kompetitif (competitive advantages) bangsa ini, misalnya meningkatkan kualitas pendidikan, memperbaiki infrastruktur, mengingkatkan kemampuan pertahanan negara dan lain-lain sehingga akan mampu mempercepat dan memudahkan bangsa ini untuk berdaya guna dan memenangkan persaingan dengan bangsa2 lain. Tidak seperti sebelumnya, BBM hanya diposisikan sebagai buffer (penyokong) perekonomian yang fungsinya dipotimalkan hanya untuk menetralisir dan meredam kondisi perekonomian yang fluktuatif.  </p>
<p>Fungsi seperti ini terbukti tidak efektif, dengan harga BBM yang terus melambung, mengendalikan perekonomian dengan BBM akan memiliki banyak kendala dan keterbatasan&#8230;</p>
<p>Dan lagi memposisikan BBM hanya sebagai buffer perekonomian, terbukti sejak kita merdeka sampai sekarang hanya mampu menolong urusan perut rakyat semata&#8230;dan sekarang terlihat peran itu mulai sangat sulit dilakukan&#8230;.</p>
<p>Lain halnya, jika kita memfungsikan BBM sebagai katalisator perekonomian, maka yang terjadi adalah rakyat tercerahkan dengan kualitas pendidikan yang sangat memadai sejak dulu karena dibiayai oleh penjualan BBM dengan harga pasar&#8230;</p>
<p>Kalau kita bangga dengan kekayaan alam kita sebagai keunggulan bangsa kita dibanding dengan bangsa lain, dimana letak keunggulannnya bangsa kita itu kalau kemudian kekayaan alam (BBM) dijual dengan harga di bawah nilai ekonomisnya&#8230;.</p>
<p>Terkait dengan spekulasi pasar global bahkan disertai kekerasan yang berdarah-darah dalam penyerbuan sekutu ke Irak sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua setelah Arab Saudi.</p>
<p>Memang ada indikasi ke arah sana, yang terpenting adalah kita bisa menetralisir dampaknya dan jsutru melihat ini sebagai peluang bagi bangsa kita&#8230;Saya tidak mau terjebak membicarakan masalah ekerasan yang berdarah-darah dalam penyerbuan sekutu ke Irak sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua setelah Arab Saudi.</p>
<p>Terima kasih ya, saya tunggu tanggapan berikutnya&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: nuklea</title>
		<link>http://www.ridhocyber.web.id/harga-bbm-naik-antrian-pom-bensin-membludak/comment-page-1/#comment-1193</link>
		<dc:creator>nuklea</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 13:28:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.ridhocyber.web.id/?p=180#comment-1193</guid>
		<description>Menurut mas Ali: 

Pada dasarnya peran dari perbankan adalah sebagai lembaga keuangan yang dijadikan sumber pembiayaan oleh kalangan usaha riil…. 
Mekanismenya adalah mengumpulkan dana masyarakat melalui tabungan dan memberikan pinjaman kepada sektor usaha untuk meningkatkan kinerja usahanya

menurut saya:
Tapi kenyataan yang terjadi tidak digunakan untuk kegiatan produktif yang menyerap lapangan kerja/padat karya berupa pendirian dan perluasan pabrik, infrastruktur tapi justru dikerjasamakan dengan kaum spekulan yang memainkan saham, valas, reksadana, obligasi, SUN dan instrumen lain termasuk option derivatif yang mengakibatkan economic overheating yang kalau bangkrut bisa mengulang siklus Argentina di tahun-tahun 80-an yang bangkrut. 


Menurut mas Ali: 
Apapun bentuk alokasi dari penghematan BBM itu adalah untuk menjaga negara ini mampu melanjutkan hidup, pada tahun-tahun mendatang…..

Menurut saya:
Penghematan BBM bukanlah soal mengulur nafas, tapi kemampuan untuk mencarikan energi alternatif non fosil. Kalau sekadar dihemat dengan matikan mesin/listrik di mall-mall, istana negara, gedung-gedung pemerintah, perempatan jalan atau pemadaman bergilir ala PLN tak ubahnya menyiram garam di lautan, mengingat konsumsi kebutuhan energi di masyarakat tak bisa dihindari.


Menurut mas Ali: 
Pemberian Rp. 100.000,- per bulan itu lebih dari cukup untuk orang miskin, karena inflasi yang diharapkan sebagai dampak dari kenaikan BBM sebesar 10-12%. Artinya jika diberikan kepada orang yang berpendapatan Rp. 1.000.000,- per bulan pun itu mampu menolong orang tersebut secara umum untuk mempertahankan pola hidupnya seperti sebelum kenaikan BBM (Rp. 1.000.000 x 10% = Rp. 100.000,-)

Menurut saya:
Harus kita tangkap esensinya bung, ketika 100.000 diberikan ke rakyat yang kemudian dibelanjakan oleh rakyat secara otomatis yang disubsidi adalah stabilitas di pasar, lebih dalam lagi kalau kita cermati adalah justru negara yang mensubsidi orang kaya. 


Menurut mas Ali: 
Kalo kita hitung, kenaikan BBM 100% berdampak inflasi sebesar 17%. tapi kenaikan BBM 28,5% kemarin menyumbang inflasi sebesar 10-12%, maka kenaikan berkali-kali BBM dalam jumlah yang kecil justru merugikan kita, inflasi justru berlipat-lipat….

Menurut saya:
Kenaikan BBM mau gradual atau sekonyong-konyong 100% ala anda tak menjawab inflasi komulatif pertahun, karena krisis energi telah menjadi kepentingan spekulasi pasar global bahkan disertai kekerasan yang berdarah-darah dalam penyerbuan sekutu ke Irak sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua setelah Arab Saudi.

Ok sekian dulu..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut mas Ali: </p>
<p>Pada dasarnya peran dari perbankan adalah sebagai lembaga keuangan yang dijadikan sumber pembiayaan oleh kalangan usaha riil….<br />
Mekanismenya adalah mengumpulkan dana masyarakat melalui tabungan dan memberikan pinjaman kepada sektor usaha untuk meningkatkan kinerja usahanya</p>
<p>menurut saya:<br />
Tapi kenyataan yang terjadi tidak digunakan untuk kegiatan produktif yang menyerap lapangan kerja/padat karya berupa pendirian dan perluasan pabrik, infrastruktur tapi justru dikerjasamakan dengan kaum spekulan yang memainkan saham, valas, reksadana, obligasi, SUN dan instrumen lain termasuk option derivatif yang mengakibatkan economic overheating yang kalau bangkrut bisa mengulang siklus Argentina di tahun-tahun 80-an yang bangkrut. </p>
<p>Menurut mas Ali:<br />
Apapun bentuk alokasi dari penghematan BBM itu adalah untuk menjaga negara ini mampu melanjutkan hidup, pada tahun-tahun mendatang…..</p>
<p>Menurut saya:<br />
Penghematan BBM bukanlah soal mengulur nafas, tapi kemampuan untuk mencarikan energi alternatif non fosil. Kalau sekadar dihemat dengan matikan mesin/listrik di mall-mall, istana negara, gedung-gedung pemerintah, perempatan jalan atau pemadaman bergilir ala PLN tak ubahnya menyiram garam di lautan, mengingat konsumsi kebutuhan energi di masyarakat tak bisa dihindari.</p>
<p>Menurut mas Ali:<br />
Pemberian Rp. 100.000,- per bulan itu lebih dari cukup untuk orang miskin, karena inflasi yang diharapkan sebagai dampak dari kenaikan BBM sebesar 10-12%. Artinya jika diberikan kepada orang yang berpendapatan Rp. 1.000.000,- per bulan pun itu mampu menolong orang tersebut secara umum untuk mempertahankan pola hidupnya seperti sebelum kenaikan BBM (Rp. 1.000.000 x 10% = Rp. 100.000,-)</p>
<p>Menurut saya:<br />
Harus kita tangkap esensinya bung, ketika 100.000 diberikan ke rakyat yang kemudian dibelanjakan oleh rakyat secara otomatis yang disubsidi adalah stabilitas di pasar, lebih dalam lagi kalau kita cermati adalah justru negara yang mensubsidi orang kaya. </p>
<p>Menurut mas Ali:<br />
Kalo kita hitung, kenaikan BBM 100% berdampak inflasi sebesar 17%. tapi kenaikan BBM 28,5% kemarin menyumbang inflasi sebesar 10-12%, maka kenaikan berkali-kali BBM dalam jumlah yang kecil justru merugikan kita, inflasi justru berlipat-lipat….</p>
<p>Menurut saya:<br />
Kenaikan BBM mau gradual atau sekonyong-konyong 100% ala anda tak menjawab inflasi komulatif pertahun, karena krisis energi telah menjadi kepentingan spekulasi pasar global bahkan disertai kekerasan yang berdarah-darah dalam penyerbuan sekutu ke Irak sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua setelah Arab Saudi.</p>
<p>Ok sekian dulu..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Alimun Bidatisudur (Ali)</title>
		<link>http://www.ridhocyber.web.id/harga-bbm-naik-antrian-pom-bensin-membludak/comment-page-1/#comment-1192</link>
		<dc:creator>Alimun Bidatisudur (Ali)</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 11:57:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.ridhocyber.web.id/?p=180#comment-1192</guid>
		<description>Terima kasih mas Ridlo...

He...he.., saya orang biasa mas Ridlo...., yang mungkin bahkan saya kira mas Ridlo lebih beruntung dibanding saya.....

Namun, saya merasa tidak nyaman jika ada penilaian terhadap siapapun (yang saya ketahui tentunya) ditempatkan menjadi tidak proporsional dan profesional.

Salam kenal mas Ridlo, semoga ada komentar yang menarik untuk saya komentari di kemudian hari dari website mas Ridlo ini....

Oh iya, mas Ridlo satu lagi....

Untuk menilai apakah segala kebijakan yang di jelaskan di atas bisa membuat semua masyarakat bisa hidup lebih baik adalah dengan melihat beberapa hal yang menjadi permasalahan selama ini yang tidak kunjung terselesaikan, perlahan bisa diselesaikan.......

Lihatlah nanti, akibat peningkatan pendapatan dari kenaikan BBM (yang seharusnya sejak jaman orde baru sudah mencapai harga pasarnya, namun karena selalu didemo, maka kenaikannya tidak sebesar yang diharapkan), akan banyak membantu pembangunan infrastruktur, menyokong pendidikan, dll....yang selama ini tidak bisa diselesaikan....

Kalo kita hitung, kenaikan BBM 100% berdampak inflasi sebesar 17%.  tapi kenaikan BBM 28,5% kemarin menyumbang inflasi sebesar 10-12%, maka kenaikan berkali-kali BBM dalam jumlah yang kecil justru merugikan kita, inflasi justru berlipat-lipat....

Untuk mencapai kenaikan 100% katakanlah, dengan cara kenaikan bertahap 28,5%, maka inflasinya jika diasumsikan flat saja akan sebesar (10%-12%)x(100%/28,5%) = (10%-12%) x (3,5 kali) = 35%-42% (lebih besar kan dampaknya jika dibandingkan kenaikan sekali 100%)

Itu jika dihitung secara flat, padahal faktanya tidak demikian, yang terjadi adalah inflasi yang lalu juga mengalami inflasi berikutnya, jadi semacam inflasi majemuk (inflasi berinflasi)...., sehingga dampaknya akan jauh lebih besar dari 35%-42%, jika dinaikkan secara bertahap...

Itu adalah harga yang harus kita bayar akibat pemerintah &quot;dipaksa&quot; mendengarkan atau mempertimbangkan tekanan dari komentar-komentar yang ada selama ini...

Coba, jika BBM mencapai harga pasar sejak dulu, maka tidak perlu ada inflasi tinggi saat ini akibat kenaikan harga BBM.  Bisa jadi pemerintah masih mampu menjadikan sisa pendapatan yang terkumpul dari penjualan BBM sejak dulu itu, digunakan sebagai buffer (penyokong) fluktuasi harga minyak dunia.....

Di samping itu, permasalahan yang tidak tersentuh oleh pemerintah (karena tidak cukupnya anggaran) dan di berbagai media selalu diberitakan pemerintah mengabaikan hal itu, segera bisa diperbaiki sejak jama dulu kala......

Orang selalu mengeluh mengapa kita, negeri yang memiliki kekayaan alam luar biasa tidak bisa menjadi makmur sejak dulu....

Ya, karena banyak orang yang &quot;meminta dan memaksa&quot; secara tidak sadar, kekayaan alam kita dibagikan secara murah kepada mereka (BBM contohnya)... akhirnya negara ini tidak mampu membangun dengan jauh lebih baik...... Pendidikan terbengkalai, infrastruktur hancur dimana-mana dan seterusnya....

Coba bayangkan kalau kekayaan alam itu, direalisasikan sesuai dengan nilai (harga)nya sejak dulu...

Khan bisa digunakan sebagai modal pembangunan, pemerintah bisa berbuat banyak untuk memperbaiki negara ini (asal para aparatur negaranya juga bertanggung jawab, maksudnya secara keseluruhan, karena korupsi itu banyak terjadi di level pelaksanaan, artinya pejabat yang bertanggung jawab secara operasional bukan dari sisi kebijakannya)....

Thanks, saya pamit dulu ya....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih mas Ridlo&#8230;</p>
<p>He&#8230;he.., saya orang biasa mas Ridlo&#8230;., yang mungkin bahkan saya kira mas Ridlo lebih beruntung dibanding saya&#8230;..</p>
<p>Namun, saya merasa tidak nyaman jika ada penilaian terhadap siapapun (yang saya ketahui tentunya) ditempatkan menjadi tidak proporsional dan profesional.</p>
<p>Salam kenal mas Ridlo, semoga ada komentar yang menarik untuk saya komentari di kemudian hari dari website mas Ridlo ini&#8230;.</p>
<p>Oh iya, mas Ridlo satu lagi&#8230;.</p>
<p>Untuk menilai apakah segala kebijakan yang di jelaskan di atas bisa membuat semua masyarakat bisa hidup lebih baik adalah dengan melihat beberapa hal yang menjadi permasalahan selama ini yang tidak kunjung terselesaikan, perlahan bisa diselesaikan&#8230;&#8230;.</p>
<p>Lihatlah nanti, akibat peningkatan pendapatan dari kenaikan BBM (yang seharusnya sejak jaman orde baru sudah mencapai harga pasarnya, namun karena selalu didemo, maka kenaikannya tidak sebesar yang diharapkan), akan banyak membantu pembangunan infrastruktur, menyokong pendidikan, dll&#8230;.yang selama ini tidak bisa diselesaikan&#8230;.</p>
<p>Kalo kita hitung, kenaikan BBM 100% berdampak inflasi sebesar 17%.  tapi kenaikan BBM 28,5% kemarin menyumbang inflasi sebesar 10-12%, maka kenaikan berkali-kali BBM dalam jumlah yang kecil justru merugikan kita, inflasi justru berlipat-lipat&#8230;.</p>
<p>Untuk mencapai kenaikan 100% katakanlah, dengan cara kenaikan bertahap 28,5%, maka inflasinya jika diasumsikan flat saja akan sebesar (10%-12%)x(100%/28,5%) = (10%-12%) x (3,5 kali) = 35%-42% (lebih besar kan dampaknya jika dibandingkan kenaikan sekali 100%)</p>
<p>Itu jika dihitung secara flat, padahal faktanya tidak demikian, yang terjadi adalah inflasi yang lalu juga mengalami inflasi berikutnya, jadi semacam inflasi majemuk (inflasi berinflasi)&#8230;., sehingga dampaknya akan jauh lebih besar dari 35%-42%, jika dinaikkan secara bertahap&#8230;</p>
<p>Itu adalah harga yang harus kita bayar akibat pemerintah &#8220;dipaksa&#8221; mendengarkan atau mempertimbangkan tekanan dari komentar-komentar yang ada selama ini&#8230;</p>
<p>Coba, jika BBM mencapai harga pasar sejak dulu, maka tidak perlu ada inflasi tinggi saat ini akibat kenaikan harga BBM.  Bisa jadi pemerintah masih mampu menjadikan sisa pendapatan yang terkumpul dari penjualan BBM sejak dulu itu, digunakan sebagai buffer (penyokong) fluktuasi harga minyak dunia&#8230;..</p>
<p>Di samping itu, permasalahan yang tidak tersentuh oleh pemerintah (karena tidak cukupnya anggaran) dan di berbagai media selalu diberitakan pemerintah mengabaikan hal itu, segera bisa diperbaiki sejak jama dulu kala&#8230;&#8230;</p>
<p>Orang selalu mengeluh mengapa kita, negeri yang memiliki kekayaan alam luar biasa tidak bisa menjadi makmur sejak dulu&#8230;.</p>
<p>Ya, karena banyak orang yang &#8220;meminta dan memaksa&#8221; secara tidak sadar, kekayaan alam kita dibagikan secara murah kepada mereka (BBM contohnya)&#8230; akhirnya negara ini tidak mampu membangun dengan jauh lebih baik&#8230;&#8230; Pendidikan terbengkalai, infrastruktur hancur dimana-mana dan seterusnya&#8230;.</p>
<p>Coba bayangkan kalau kekayaan alam itu, direalisasikan sesuai dengan nilai (harga)nya sejak dulu&#8230;</p>
<p>Khan bisa digunakan sebagai modal pembangunan, pemerintah bisa berbuat banyak untuk memperbaiki negara ini (asal para aparatur negaranya juga bertanggung jawab, maksudnya secara keseluruhan, karena korupsi itu banyak terjadi di level pelaksanaan, artinya pejabat yang bertanggung jawab secara operasional bukan dari sisi kebijakannya)&#8230;.</p>
<p>Thanks, saya pamit dulu ya&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ridhocyber</title>
		<link>http://www.ridhocyber.web.id/harga-bbm-naik-antrian-pom-bensin-membludak/comment-page-1/#comment-1191</link>
		<dc:creator>ridhocyber</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 22:01:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.ridhocyber.web.id/?p=180#comment-1191</guid>
		<description>roro  @ yah kontribusi yang kongkrit itu lebih baik sepertinya

Alimun Bidaisudur (Ali) @ terima kasih untuk tanggapannya

Alimun Bidatisudur @ terima kasih, semoga sodara nuklea dan kita semua bisa menerima penjelasan dari sodara ali.

Alimun Bidatisudur (Ali) @ terima kasih untuk penjelasan kedua tentang 8 opsi menjawab BBM Naik dari sodara nuklea, semoga bisa jadi bahan pertimbangan juga untuk kita semua dalam menyikapi isu berkembang saat ini

Alimun Budatisudur (Ali)  @ jujur sekarang saya jadi semakin tau, karena penjelasan panjang dari sodara ali, nuklea dan teman teman lainnya. 

namun jujur juga, secara saya yang awam sekali. saya bingung, karena penjelasan tiap tiap orang punya dasar masing masing, dan semua rasanya benar. dengan cara pandang masing masing.

kalo sodara ali tanya ke saya puas apa gak, saya puas kalo dengan segala kebijakan yang di jelaskan di atas bisa membuat semua masyarakat bisa hidup lebih baik.

dan saya agak penasaran, sodara Ali ini siapa yah? kok sepertinya sangat menguasai materi :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>roro  @ yah kontribusi yang kongkrit itu lebih baik sepertinya</p>
<p>Alimun Bidaisudur (Ali) @ terima kasih untuk tanggapannya</p>
<p>Alimun Bidatisudur @ terima kasih, semoga sodara nuklea dan kita semua bisa menerima penjelasan dari sodara ali.</p>
<p>Alimun Bidatisudur (Ali) @ terima kasih untuk penjelasan kedua tentang 8 opsi menjawab BBM Naik dari sodara nuklea, semoga bisa jadi bahan pertimbangan juga untuk kita semua dalam menyikapi isu berkembang saat ini</p>
<p>Alimun Budatisudur (Ali)  @ jujur sekarang saya jadi semakin tau, karena penjelasan panjang dari sodara ali, nuklea dan teman teman lainnya. </p>
<p>namun jujur juga, secara saya yang awam sekali. saya bingung, karena penjelasan tiap tiap orang punya dasar masing masing, dan semua rasanya benar. dengan cara pandang masing masing.</p>
<p>kalo sodara ali tanya ke saya puas apa gak, saya puas kalo dengan segala kebijakan yang di jelaskan di atas bisa membuat semua masyarakat bisa hidup lebih baik.</p>
<p>dan saya agak penasaran, sodara Ali ini siapa yah? kok sepertinya sangat menguasai materi <img src='http://www.ridhocyber.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Alimun Budatisudur (Ali)</title>
		<link>http://www.ridhocyber.web.id/harga-bbm-naik-antrian-pom-bensin-membludak/comment-page-1/#comment-1190</link>
		<dc:creator>Alimun Budatisudur (Ali)</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 14:52:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.ridhocyber.web.id/?p=180#comment-1190</guid>
		<description>Gimana mas Ridlo, puas dengan penjelasannya ???.....

Kok nggak ada komentar lagi ya....


Saya lagi nunggu kometar dari yang lain nih....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gimana mas Ridlo, puas dengan penjelasannya ???&#8230;..</p>
<p>Kok nggak ada komentar lagi ya&#8230;.</p>
<p>Saya lagi nunggu kometar dari yang lain nih&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Alimun Bidatisudur (Ali)</title>
		<link>http://www.ridhocyber.web.id/harga-bbm-naik-antrian-pom-bensin-membludak/comment-page-1/#comment-1187</link>
		<dc:creator>Alimun Bidatisudur (Ali)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 14:59:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.ridhocyber.web.id/?p=180#comment-1187</guid>
		<description>Maaf ya, setelah saya baca lagi pendapat Sdr. Nuklea, ternyata ada beberapa point fundamental yang belum saya luruskan terkait pemahaman yang tidak tepat dari Nuklea dan terlanjur berkembang di masyarakat.

Tentang BLBI:
Menurut Nuklea, ...... &quot;Bahwa rakyat bukanlah penikmat Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan obligasi rekap perbankan yang mencapai Rp 645 triliun lebih, melainkan para konglomerat hitam pengemplang uang negara, merupakan fakta yang tidak bisa dibantah&quot;

Respon Ali:

Ini adalah pemahaman linier sederhana (simple) dan melahirkan konklusi yang tidak tepat. Anak kecil pun berpikir begitu...

Mengapa.....

Pada dasarnya peran dari perbankan adalah sebagai lembaga keuangan yang dijadikan sumber pembiayaan oleh kalangan usaha riil....

Mekanismenya adalah mengumpulkan dana masyarakat melalui tabungan dan memberikan pinjaman kepada sektor usaha untuk meningkatkan kinerja usahanya

Kenapa perbankan dibantu BLBI oleh pemerintah?
Agar mampu beroperasi, perbankan harus dijaga kemampuan likuiditasnya...
Jadi, bantuan BLBI itu dimaksudkan untuk menjaga kemampuan perbankan menyokong perekonomian dengan cara membantu kalangan usaha meningkatkan kinerjanya dengan memberikan bantuan hutang...

Bantuan BLBI itu dilakukan ketika terjadi krisis ekonomi, dimana pinjaman yang diberikan pihak perbankan kepada kalangan usaha, banyak yang macet sehingga sangat mengganggu kemampuan likuiditas perbankan....

Apa dampaknya...

Kalo perbankan tidak liquid ya tidak dipercaya oleh nasabah, karena bank nggak bisa membayar klaim nasabah ketika akan menarik sebagian uang tabungannya dari perbankan...

Akhirnya bank-bank pada gulung tikar, tiarap....
Akhirnya Nggak ada bank, trus kalangan usaha dapat pinjaman darimana?, rentenir?

Ibu-Ibu yang jualan di pasar yang biasanya ngutang di bank, mau cari pinjaman ke siapa.......rentenir?

Parahnya lagi kalo nggak ada lembaga perbankan, akhirnya kinerja kalangan usaha akan turun berarti penyerapan tenaga kerja sangat rendah......

Kalo penyerapan tenaga kerja rendah, gimana dengan anak-anak freshgraduate (baru lulus) SMA atau perguruan tinggi mau kerja apa.....

Itu kalo hanya kinerja usahanya menurun... 

Tapi kalo kemudian bertambah parah, kalangan usaha menjadi bangkrut karena nggak ada sokongan dari perbankan misalnya.....

Kan akan terjadi banyak lagi pemberhentian karyawan atau buruh yang terjadi dimana-mana....
 
Penggangguran bertambah berlipat-lipat...

Permasalahan sosial akan muncul dimana2 karena banyaknya pengangguran karena ketidakmampuan dunia usaha menyerap tenaga kerja atau bahkan melakukan pemecatan atau pemberhentian....

Jadi sebenarnya peruntukan BLBI itu untuk rakyat kecil....

Namun apa daya, sistem pengawasan di negara kita masih sangat lemah (itu dah dari jaman dulu, dari rezim ke rezim penguasa beriktnya) sehingga menyebabkan BLBI banyak yang diselewengkan, tidak digunakan sesuai dengan peruntukannya.....


Tentang BLT

Nuklea menyatakan, &quot;Karena terjepit utang, pemerintah membohongi rakyatnya dengan menyatakan bahwa sebagian besar uang yang dihemat dari pengurangan subsidi BBM itu akan dikembalikan kepada rakyat. Padahal, dari Rp 25 triliun yang dikumpulkan dari penghematan subsidi, hanya 45 persen (Rp 11,5 triliun) yang dikembalikan kepada 19,1 juta keluarga miskin dalam bentuk BLT. Selebihnya untuk mereduksi defisit APBN dan membayar utang, sebagaimana diakui sendiri oleh Wapres Jusuf Kalla&quot;.

Respon Ali:

Apapun bentuk alokasi dari penghematan BBM itu adalah untuk menjaga negara ini mampu melanjutkan hidup, pada tahun-tahun mendatang.....

Memang untuk BLT tidak sebesar hasil penghematan BBM, karena sifat BLT sendiri yang temporer dan ditunjukan hanya menjaga guncangan seketika (sesaat) secara psikologis ketika BBM dinaikkan untuk rakyat pada level yang paling tidak mampu (paling miskin).....

BLT akan ditiadakan ketika kesetimbangan ekonomi yang baru mulai terbentuk, sehingga rakyat akan menjalani kehidupannya secara wajar sebagaimana sebelum BBM dinaikkan....

Alokasi dari penghematan BBM yang lain diperuntukkan untuk program yang lebih produktif, misalnya padat karya, peningkatan jaminan kesehatan rakyat miskin, dan lan-lain....

Alokasi penggunaan penghematan BBM untuk membayar bunga hutang (katakanlah jika ini benar, karena saya tidak mendengar sendiri dari sumber yang terpercaya) sebenarnya juga digunakan untuk menjaga kepercayaan pemilik modal yang membantu negara ini dengan memberikan hutang yang digunakan untuk menutup defisit APBN untuk mendongkrak perekonomian sehingga dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat maka daya serap tenaga kerja (orang miskin) semakin besar......

Tentang dampak kenaikan BBM

Menurut Nuklea, &quot;Pemerintah menyatakan bahwa menaikkan BBM akan menolong rakyat kecil mengingkari fakta bahwa BBM adalah nyawa dari semua jenis industri yang memiliki dampak dua arah, terhadap produsen dan konsumen. Rakyat pasti akan terpukul oleh naiknya barang-barang, karena jika BBM naik, para pengusaha akan melimpahkan bebannya kepada konsumen. Dalam situasi di mana daya beli rakyat hancur, bantuan tunai sebesar Rp 100.000 tidak akan bisa menolong rakyat miskin dari keterpurukan&quot;.

Fakta itu memang tidak bisa disangkal.  Itulah dampak (risiko) yang harus ditanggung kalo kita mau lebih baik lagi. Pilihan dimana2 mengandung risikonya sendiri2. Kalo nggak, nggak bakalan bikin orang pusing, putus asa, salah pengertian dan seterusnya.....

Tetapi cobalah untuk melihat ke depan, inflasi tinggi kan terjadi setelah BB dinaikkan seteah harga BBM stabil lagi, inflasi akan terjadi pada level yang moderat, asal tidak ada pemicu inflasi tinggi lainnya....

Nah setelah inflasi seperti sediakala, negara menikmati pendapatan yang lebih tinggi dari kenaikan BBM, sehingga lebih mampu membiayai pembangunan dibandingkan sebelumnya....

Banyak anggaran yang bisa ditingkatkan dari peningkatan pendapatan BBM pasca kenaikan, anggaran pendidikan, kesehatan dan lain-lain....

Pemberian Rp. 100.000,- per bulan itu lebih dari cukup untuk orang miskin, karena  inflasi yang diharapkan sebagai dampak dari kenaikan BBM sebesar 10-12%.  Artinya jika diberikan kepada orang yang berpendapatan Rp. 1.000.000,- per bulan pun itu mampu menolong orang tersebut secara umum untuk mempertahankan pola hidupnya seperti sebelum kenaikan BBM  (Rp. 1.000.000 x 10% = Rp. 100.000,-)  

Apalagi kalau diberikan kepada orang miskin yang pendapatannya pasti di bawah 1 Juta....

Misal si A pendapatannya 450.000 per bulan, maka kebutuhan hidupnya secara rata-rata akan meningkat menjadi Rp. 495.000,- per bulan, sementara dia mendapatkan bantuan 100.000, berarti masih lebih Rp. 55.000,-

Nggak tahu, kalo yang dimaksud Nuklea &quot;orang miskin&quot; itu adalah yang termasuk pendapatannya di atas Rp. 1 Juta, pasti nggak tertolong......he...he....

Itu dulu deh, ya.......</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf ya, setelah saya baca lagi pendapat Sdr. Nuklea, ternyata ada beberapa point fundamental yang belum saya luruskan terkait pemahaman yang tidak tepat dari Nuklea dan terlanjur berkembang di masyarakat.</p>
<p>Tentang BLBI:<br />
Menurut Nuklea, &#8230;&#8230; &#8220;Bahwa rakyat bukanlah penikmat Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan obligasi rekap perbankan yang mencapai Rp 645 triliun lebih, melainkan para konglomerat hitam pengemplang uang negara, merupakan fakta yang tidak bisa dibantah&#8221;</p>
<p>Respon Ali:</p>
<p>Ini adalah pemahaman linier sederhana (simple) dan melahirkan konklusi yang tidak tepat. Anak kecil pun berpikir begitu&#8230;</p>
<p>Mengapa&#8230;..</p>
<p>Pada dasarnya peran dari perbankan adalah sebagai lembaga keuangan yang dijadikan sumber pembiayaan oleh kalangan usaha riil&#8230;.</p>
<p>Mekanismenya adalah mengumpulkan dana masyarakat melalui tabungan dan memberikan pinjaman kepada sektor usaha untuk meningkatkan kinerja usahanya</p>
<p>Kenapa perbankan dibantu BLBI oleh pemerintah?<br />
Agar mampu beroperasi, perbankan harus dijaga kemampuan likuiditasnya&#8230;<br />
Jadi, bantuan BLBI itu dimaksudkan untuk menjaga kemampuan perbankan menyokong perekonomian dengan cara membantu kalangan usaha meningkatkan kinerjanya dengan memberikan bantuan hutang&#8230;</p>
<p>Bantuan BLBI itu dilakukan ketika terjadi krisis ekonomi, dimana pinjaman yang diberikan pihak perbankan kepada kalangan usaha, banyak yang macet sehingga sangat mengganggu kemampuan likuiditas perbankan&#8230;.</p>
<p>Apa dampaknya&#8230;</p>
<p>Kalo perbankan tidak liquid ya tidak dipercaya oleh nasabah, karena bank nggak bisa membayar klaim nasabah ketika akan menarik sebagian uang tabungannya dari perbankan&#8230;</p>
<p>Akhirnya bank-bank pada gulung tikar, tiarap&#8230;.<br />
Akhirnya Nggak ada bank, trus kalangan usaha dapat pinjaman darimana?, rentenir?</p>
<p>Ibu-Ibu yang jualan di pasar yang biasanya ngutang di bank, mau cari pinjaman ke siapa&#8230;&#8230;.rentenir?</p>
<p>Parahnya lagi kalo nggak ada lembaga perbankan, akhirnya kinerja kalangan usaha akan turun berarti penyerapan tenaga kerja sangat rendah&#8230;&#8230;</p>
<p>Kalo penyerapan tenaga kerja rendah, gimana dengan anak-anak freshgraduate (baru lulus) SMA atau perguruan tinggi mau kerja apa&#8230;..</p>
<p>Itu kalo hanya kinerja usahanya menurun&#8230; </p>
<p>Tapi kalo kemudian bertambah parah, kalangan usaha menjadi bangkrut karena nggak ada sokongan dari perbankan misalnya&#8230;..</p>
<p>Kan akan terjadi banyak lagi pemberhentian karyawan atau buruh yang terjadi dimana-mana&#8230;.</p>
<p>Penggangguran bertambah berlipat-lipat&#8230;</p>
<p>Permasalahan sosial akan muncul dimana2 karena banyaknya pengangguran karena ketidakmampuan dunia usaha menyerap tenaga kerja atau bahkan melakukan pemecatan atau pemberhentian&#8230;.</p>
<p>Jadi sebenarnya peruntukan BLBI itu untuk rakyat kecil&#8230;.</p>
<p>Namun apa daya, sistem pengawasan di negara kita masih sangat lemah (itu dah dari jaman dulu, dari rezim ke rezim penguasa beriktnya) sehingga menyebabkan BLBI banyak yang diselewengkan, tidak digunakan sesuai dengan peruntukannya&#8230;..</p>
<p>Tentang BLT</p>
<p>Nuklea menyatakan, &#8220;Karena terjepit utang, pemerintah membohongi rakyatnya dengan menyatakan bahwa sebagian besar uang yang dihemat dari pengurangan subsidi BBM itu akan dikembalikan kepada rakyat. Padahal, dari Rp 25 triliun yang dikumpulkan dari penghematan subsidi, hanya 45 persen (Rp 11,5 triliun) yang dikembalikan kepada 19,1 juta keluarga miskin dalam bentuk BLT. Selebihnya untuk mereduksi defisit APBN dan membayar utang, sebagaimana diakui sendiri oleh Wapres Jusuf Kalla&#8221;.</p>
<p>Respon Ali:</p>
<p>Apapun bentuk alokasi dari penghematan BBM itu adalah untuk menjaga negara ini mampu melanjutkan hidup, pada tahun-tahun mendatang&#8230;..</p>
<p>Memang untuk BLT tidak sebesar hasil penghematan BBM, karena sifat BLT sendiri yang temporer dan ditunjukan hanya menjaga guncangan seketika (sesaat) secara psikologis ketika BBM dinaikkan untuk rakyat pada level yang paling tidak mampu (paling miskin)&#8230;..</p>
<p>BLT akan ditiadakan ketika kesetimbangan ekonomi yang baru mulai terbentuk, sehingga rakyat akan menjalani kehidupannya secara wajar sebagaimana sebelum BBM dinaikkan&#8230;.</p>
<p>Alokasi dari penghematan BBM yang lain diperuntukkan untuk program yang lebih produktif, misalnya padat karya, peningkatan jaminan kesehatan rakyat miskin, dan lan-lain&#8230;.</p>
<p>Alokasi penggunaan penghematan BBM untuk membayar bunga hutang (katakanlah jika ini benar, karena saya tidak mendengar sendiri dari sumber yang terpercaya) sebenarnya juga digunakan untuk menjaga kepercayaan pemilik modal yang membantu negara ini dengan memberikan hutang yang digunakan untuk menutup defisit APBN untuk mendongkrak perekonomian sehingga dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat maka daya serap tenaga kerja (orang miskin) semakin besar&#8230;&#8230;</p>
<p>Tentang dampak kenaikan BBM</p>
<p>Menurut Nuklea, &#8220;Pemerintah menyatakan bahwa menaikkan BBM akan menolong rakyat kecil mengingkari fakta bahwa BBM adalah nyawa dari semua jenis industri yang memiliki dampak dua arah, terhadap produsen dan konsumen. Rakyat pasti akan terpukul oleh naiknya barang-barang, karena jika BBM naik, para pengusaha akan melimpahkan bebannya kepada konsumen. Dalam situasi di mana daya beli rakyat hancur, bantuan tunai sebesar Rp 100.000 tidak akan bisa menolong rakyat miskin dari keterpurukan&#8221;.</p>
<p>Fakta itu memang tidak bisa disangkal.  Itulah dampak (risiko) yang harus ditanggung kalo kita mau lebih baik lagi. Pilihan dimana2 mengandung risikonya sendiri2. Kalo nggak, nggak bakalan bikin orang pusing, putus asa, salah pengertian dan seterusnya&#8230;..</p>
<p>Tetapi cobalah untuk melihat ke depan, inflasi tinggi kan terjadi setelah BB dinaikkan seteah harga BBM stabil lagi, inflasi akan terjadi pada level yang moderat, asal tidak ada pemicu inflasi tinggi lainnya&#8230;.</p>
<p>Nah setelah inflasi seperti sediakala, negara menikmati pendapatan yang lebih tinggi dari kenaikan BBM, sehingga lebih mampu membiayai pembangunan dibandingkan sebelumnya&#8230;.</p>
<p>Banyak anggaran yang bisa ditingkatkan dari peningkatan pendapatan BBM pasca kenaikan, anggaran pendidikan, kesehatan dan lain-lain&#8230;.</p>
<p>Pemberian Rp. 100.000,- per bulan itu lebih dari cukup untuk orang miskin, karena  inflasi yang diharapkan sebagai dampak dari kenaikan BBM sebesar 10-12%.  Artinya jika diberikan kepada orang yang berpendapatan Rp. 1.000.000,- per bulan pun itu mampu menolong orang tersebut secara umum untuk mempertahankan pola hidupnya seperti sebelum kenaikan BBM  (Rp. 1.000.000 x 10% = Rp. 100.000,-)  </p>
<p>Apalagi kalau diberikan kepada orang miskin yang pendapatannya pasti di bawah 1 Juta&#8230;.</p>
<p>Misal si A pendapatannya 450.000 per bulan, maka kebutuhan hidupnya secara rata-rata akan meningkat menjadi Rp. 495.000,- per bulan, sementara dia mendapatkan bantuan 100.000, berarti masih lebih Rp. 55.000,-</p>
<p>Nggak tahu, kalo yang dimaksud Nuklea &#8220;orang miskin&#8221; itu adalah yang termasuk pendapatannya di atas Rp. 1 Juta, pasti nggak tertolong&#8230;&#8230;he&#8230;he&#8230;.</p>
<p>Itu dulu deh, ya&#8230;&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Alimun Bidatisudur</title>
		<link>http://www.ridhocyber.web.id/harga-bbm-naik-antrian-pom-bensin-membludak/comment-page-1/#comment-1184</link>
		<dc:creator>Alimun Bidatisudur</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 08:37:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.ridhocyber.web.id/?p=180#comment-1184</guid>
		<description>Maaf ya, beberapa hari ini saya ada keperluan ke Jombang jadi belum sempat ngasih komentar................. 

Menarik sekali komentar yang diberikan Sdr Nuklea di atas. Banyak hal yang saya sepakat dari apa yang telah disampaikan (terutama 8 point langkah strategis).  Namun beberapa hal yang fundamental dari apa yang disampaikan di atas menurut saya tidak relevan...........

Pertama, pada dasarnya pembayaran bunga obligasi menjamin negara yang diwakili pemerintah untuk mendapatkan kepercayaan pasar modal agar negara memiliki akses yang sustainable pada sumber pemodalan dari hutang yang digunakan sebagai leverage perekonomian....

Apakah hutang itu buruk atau sebaliknya mulia?.  Tergantung dari cara penggunaan dan pengalokasian hutang....

Dalam teori struktur modal (capital structure), penggunaan struktur modal yang optimal akan mampu memberikan dampak pada manfaat yang optimal dari penggunaan modal (misalnya, hutang) dan tingkat risiko modal yang dapat diminimalisir (misalnya pada hutang, risikonya adalah bunga hutang).....

Jadi tidak relevan membandingkan besaran bunga obligasi yang dibayar negara dengan subsidi BBM......

Mengapa???. Karena manfaat dari hutang yang diperoleh dari menerbitkan obligasi digunakan sebagai leverage (pengungkit/pendongkrak) perekonomian, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat lebih tinggi dan menyebabkan penyerapan tenaga kerja akan lebih banyak lagi.....

Coba bayangkan kalau pertumbuhan ekomoni rendah, maka anak-anak yang sudah lulus sekolah atau kuliah akan sangat kesusahan mendapatkan akses pekerjaan...............

Anda bisa melihat dengan kasad mata, pertumbuhan ekonomi akan berdampak secara nyata pada penyediaan lapangan kerja......

Sebagaimana bisa kita melihat sebagian lulusan SMA dan perguruan tinggi kita mendapatkan akses pekerjaan selama ini.....

Jadi hutang itu fungsinya sebagai leverage.....

Sebagai konsekuensi dari hutang yang telah memberikan manfaat kepada rakyat dengan menjadi instrumen pendongkrak perekonomian, maka kita harus membayar bunga hutangnya....

Jadi posisi bunga obligasi bukan sebagai bentuk subsidi kepada orang kaya, akan tetapi sebagai biaya (risiko) yang harus dibayar kepada pemilik modal (menurut Nuklea, orang kaya) oleh negara atas manfaat yang telah diperoleh dari hutang yang diberikan oleh pemilik modal tersebut......

Maka, sekali lagi tidak relevan membandingkan besaran bunga obligasi yang dibayar negara dengan subsidi BBM......

Kedua, Nuklea menyebut pemerintah tidak jujur mengakui bahwa yang disebut dengan subsidi bukanlah cash transfer. Subsidi bukanlah uang tunai yang diberikan negara kepada rakyat. Subsidi adalah selisih harga yang dihitung dari minyak yang sebagian besar masih diambil dari perut bumi Indonesia terhadap harga minyak di pasar dunia yang ditentukan oleh NYMEX (New York Mercantile Exchange)

Respon Ali:  Perhitungan subsidi dengan cara seperti yang dilakukan pemerintah seperti yang disebutkan Nuklea adalah paling tepat.....  Ini bukan sekedar masalah pandangan neoliberalisme sebagaimana yang disebutkan Nuklea.  Tidak ada kaitannya.... 

Mengapa???,  (sebagaimana yang saya jelaskan pada komentar saya yang kedua) ini adalah cara yang paling fair (adil, obyektif dan informatif), dengan memberlakukan nilai aset saat ini (present value) pada bahan bakar minyak.  Lho,.....

Dengan memperhitungkan nilai sesungguhnya dari aset (minyak), maka akan dapat ditentukan rencana yang jauh lebih strategis untuk mengoptimalkan manfaat dari nilai aset (minyak) tersebut dibanding hanya membagi-bagikan (menghamburkan) minyak secara langsung kepada rakyat dengan nilai (harga) di bawah nilai (harga) minyak yang sesungguhnya....

Menghamburkan minyak dengan membagikan langsung kepada rakyat hanya memberikan manfaat linier.  Namun, jika minyak direlisasikan dulu dengan nilai sesungguhnya (dijual dengan harga pasar), maka manfaat (nilai harga minyak) tersebut dapat dialokaskan untuk berbagai keperluan yang jauh lebih produktif......yang akan dinikmati oleh rakyat dalam jangka panjang.

Kalo dibandingkan dengan perusahaan, maka cara berpikir Nuklea itu merupakan paradigma perusahaan konvensional yang susah maju (karena cara memberlakukan aset secara linier), bukan perusahaan yang terbukti mampu berkembang maju dan menjadi besar.....

Ketiga, tentang illigal fishing dan pembalakan liar.

Memang, nilai ekonomisnya sangat besar. jika dilihat berdasarkan nilai aset dari ikan dan kayu yang dicuri.  Namun jangan lupa, itu adalah nilai yang dijual oleh si pencui yang sudah memiliki pasar....

Bagaimana dengan jika ikan dan kayu itu dijual negara....

Ya, belum tentu menghasilkan uang karena pasarnya nggak ada.....

Oh iya, kalo natural decline dari produksi minyak sudah menurun mulai tahun 1999, mengapa PKB yang notabene partai pemerintah pada masa Gus Dur tidak mampu berbuat banyak ya.....

Kadang kali kita lebih pandai mengkritik.....

Pada dasarnya saya sepakat dengan 8 point di atas, dan bukankah yang saya dengar pemerintah sekarang sedang mengupayakannya......

Ok, sekian dulu ya...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf ya, beberapa hari ini saya ada keperluan ke Jombang jadi belum sempat ngasih komentar&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. </p>
<p>Menarik sekali komentar yang diberikan Sdr Nuklea di atas. Banyak hal yang saya sepakat dari apa yang telah disampaikan (terutama 8 point langkah strategis).  Namun beberapa hal yang fundamental dari apa yang disampaikan di atas menurut saya tidak relevan&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Pertama, pada dasarnya pembayaran bunga obligasi menjamin negara yang diwakili pemerintah untuk mendapatkan kepercayaan pasar modal agar negara memiliki akses yang sustainable pada sumber pemodalan dari hutang yang digunakan sebagai leverage perekonomian&#8230;.</p>
<p>Apakah hutang itu buruk atau sebaliknya mulia?.  Tergantung dari cara penggunaan dan pengalokasian hutang&#8230;.</p>
<p>Dalam teori struktur modal (capital structure), penggunaan struktur modal yang optimal akan mampu memberikan dampak pada manfaat yang optimal dari penggunaan modal (misalnya, hutang) dan tingkat risiko modal yang dapat diminimalisir (misalnya pada hutang, risikonya adalah bunga hutang)&#8230;..</p>
<p>Jadi tidak relevan membandingkan besaran bunga obligasi yang dibayar negara dengan subsidi BBM&#8230;&#8230;</p>
<p>Mengapa???. Karena manfaat dari hutang yang diperoleh dari menerbitkan obligasi digunakan sebagai leverage (pengungkit/pendongkrak) perekonomian, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat lebih tinggi dan menyebabkan penyerapan tenaga kerja akan lebih banyak lagi&#8230;..</p>
<p>Coba bayangkan kalau pertumbuhan ekomoni rendah, maka anak-anak yang sudah lulus sekolah atau kuliah akan sangat kesusahan mendapatkan akses pekerjaan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Anda bisa melihat dengan kasad mata, pertumbuhan ekonomi akan berdampak secara nyata pada penyediaan lapangan kerja&#8230;&#8230;</p>
<p>Sebagaimana bisa kita melihat sebagian lulusan SMA dan perguruan tinggi kita mendapatkan akses pekerjaan selama ini&#8230;..</p>
<p>Jadi hutang itu fungsinya sebagai leverage&#8230;..</p>
<p>Sebagai konsekuensi dari hutang yang telah memberikan manfaat kepada rakyat dengan menjadi instrumen pendongkrak perekonomian, maka kita harus membayar bunga hutangnya&#8230;.</p>
<p>Jadi posisi bunga obligasi bukan sebagai bentuk subsidi kepada orang kaya, akan tetapi sebagai biaya (risiko) yang harus dibayar kepada pemilik modal (menurut Nuklea, orang kaya) oleh negara atas manfaat yang telah diperoleh dari hutang yang diberikan oleh pemilik modal tersebut&#8230;&#8230;</p>
<p>Maka, sekali lagi tidak relevan membandingkan besaran bunga obligasi yang dibayar negara dengan subsidi BBM&#8230;&#8230;</p>
<p>Kedua, Nuklea menyebut pemerintah tidak jujur mengakui bahwa yang disebut dengan subsidi bukanlah cash transfer. Subsidi bukanlah uang tunai yang diberikan negara kepada rakyat. Subsidi adalah selisih harga yang dihitung dari minyak yang sebagian besar masih diambil dari perut bumi Indonesia terhadap harga minyak di pasar dunia yang ditentukan oleh NYMEX (New York Mercantile Exchange)</p>
<p>Respon Ali:  Perhitungan subsidi dengan cara seperti yang dilakukan pemerintah seperti yang disebutkan Nuklea adalah paling tepat&#8230;..  Ini bukan sekedar masalah pandangan neoliberalisme sebagaimana yang disebutkan Nuklea.  Tidak ada kaitannya&#8230;. </p>
<p>Mengapa???,  (sebagaimana yang saya jelaskan pada komentar saya yang kedua) ini adalah cara yang paling fair (adil, obyektif dan informatif), dengan memberlakukan nilai aset saat ini (present value) pada bahan bakar minyak.  Lho,&#8230;..</p>
<p>Dengan memperhitungkan nilai sesungguhnya dari aset (minyak), maka akan dapat ditentukan rencana yang jauh lebih strategis untuk mengoptimalkan manfaat dari nilai aset (minyak) tersebut dibanding hanya membagi-bagikan (menghamburkan) minyak secara langsung kepada rakyat dengan nilai (harga) di bawah nilai (harga) minyak yang sesungguhnya&#8230;.</p>
<p>Menghamburkan minyak dengan membagikan langsung kepada rakyat hanya memberikan manfaat linier.  Namun, jika minyak direlisasikan dulu dengan nilai sesungguhnya (dijual dengan harga pasar), maka manfaat (nilai harga minyak) tersebut dapat dialokaskan untuk berbagai keperluan yang jauh lebih produktif&#8230;&#8230;yang akan dinikmati oleh rakyat dalam jangka panjang.</p>
<p>Kalo dibandingkan dengan perusahaan, maka cara berpikir Nuklea itu merupakan paradigma perusahaan konvensional yang susah maju (karena cara memberlakukan aset secara linier), bukan perusahaan yang terbukti mampu berkembang maju dan menjadi besar&#8230;..</p>
<p>Ketiga, tentang illigal fishing dan pembalakan liar.</p>
<p>Memang, nilai ekonomisnya sangat besar. jika dilihat berdasarkan nilai aset dari ikan dan kayu yang dicuri.  Namun jangan lupa, itu adalah nilai yang dijual oleh si pencui yang sudah memiliki pasar&#8230;.</p>
<p>Bagaimana dengan jika ikan dan kayu itu dijual negara&#8230;.</p>
<p>Ya, belum tentu menghasilkan uang karena pasarnya nggak ada&#8230;..</p>
<p>Oh iya, kalo natural decline dari produksi minyak sudah menurun mulai tahun 1999, mengapa PKB yang notabene partai pemerintah pada masa Gus Dur tidak mampu berbuat banyak ya&#8230;..</p>
<p>Kadang kali kita lebih pandai mengkritik&#8230;..</p>
<p>Pada dasarnya saya sepakat dengan 8 point di atas, dan bukankah yang saya dengar pemerintah sekarang sedang mengupayakannya&#8230;&#8230;</p>
<p>Ok, sekian dulu ya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Alimun Bidaisudur (Ali)</title>
		<link>http://www.ridhocyber.web.id/harga-bbm-naik-antrian-pom-bensin-membludak/comment-page-1/#comment-1162</link>
		<dc:creator>Alimun Bidaisudur (Ali)</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 09:56:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.ridhocyber.web.id/?p=180#comment-1162</guid>
		<description>He..he..., dengan rasa hormat saya hargai upaya penyajian slide yang diberikan mas Ridlo... http://roro77.wordpress.com/2008/06/04/subsidi-bbm-memang-benarkah-ada/

Tetapi, saya harus memberikan tanggapan yang proporsional utuk itu.

Jika pun data yang diberikan itu benar adanya, maka perlu saya jelaskan:

Dalam akuntansi (sy bukan orang akuntansi, tapi sedikit banyak belajar akuntansi), dengan tujuan penyajian laporan keuangan yang lebih adil, obyektif dan informatif maka baik untuk sisi pengeluaran maupun sisi pemasukan (pendapatan) harus ditulis sesuai dengan nilainya sekarang (present value)

BBM juga demikian, harganya atau nilai sekarangnya harus dilaporkan sebagai ssi pemasukan (pendapatan) negara dulu, ini fair (jadi dihitung dengan harga berlaku atau nilai barangnya sekarang, harga minyak sekarang). kemudian ditambahkan dari pemasukan2 yang lain seperti sektor pajak dan sebagainya.  Nah, pada saat yang sama diinvertarisir keperluan pembelanjaan negara termasuk belanja rutin dan belanja yang sifatnya produktif, jika keperluan belanja defisit akan diambilkan opsi hutang, misalnya.

Apa konsekuensinya??

Ya, kalo dibandingkan dengan harga minyak US$ 90/barrel sebagaimana yang pernah diasumsikan dalam APBN ya, negara rugi karena proyeksi pendapatannya tidak akan sebesar yang dipehitungkan

Kalo sudah demikian, apa yang akan terjadi....

Konsekuensinya adalah sebenarnya terjadi hilangnya kesempatan bangsa atau negara yang diwakili pemerintah untuk memanfaatkan momentum peningkatan pendapatan ini untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemajuan  perekonomian....

Ingatkan kita tentang jalan2 yang berlubang yang menyebabkan high cost pada industi manufaktur kita sehingga sulit bersaing dengan produk luar....

Sekolah-sekolah di pelosok yang tidak terawat bahkan nyaris ambruk......

Tingkat kematian Ibu melahirkan yang termasu tertinggi di dunia.....

Bayi gizi buruk di mana-mana.....

Lihatlah bagaimana negara-negara maju mampu memberikan jaminan hidup yang jauh lebih layak kepada rakyat miskinnya....

Alokasi anggaran pendidikan 20% sulit direalisasikan.....

Kita nggak bisa berbuat banyak selama ini mengapa?.  Karena kita nggak punya cukup uang Bung (Itu saja)....

Jadi, kalo anda atau mahasiswa berteriak2 alokasi pendidikan 20% itu, ya pemerintah nggak bisa berbuat banyak...Karena nggak ada cukup uang..

Bahkan kejadian krisis moneter pertengahan tahun 1997 lalu, yang berkembang menjadi krisis ekonomi dan mencapai puncaknya menjadi krisis multidimensional, yang dimulai dari jatuhnya mata uang Bath Thailand kemudian berimbas pada Indonesia nggak bisa dicegah, kenapa? 

Karena kita nggak punya cukup uang untuk mengintervensi perdagangan valas, sehingga nilai tukar rupiah jatuh jauh dari nilai psikologisnya yang pada saat itu hanya sebesar sekitar Rp.2000-2500 menjadi menembus 10.000 bahkan di atas 15.000 dan konsekuensinya inflasi malah tak terbendung lagi, susah diatasi.  mau terjadi seperti itu lagi.  Nggak???, ya konsekuensinya negara harus memilii cadangan devisa yang lebih dari cukup....

Nah, inilah yang dimaksud pasal 33 UUD 45 tentang kekayaan alam dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Jadi hasil dari nilai atau harga sekarang minyak kita (kekayaan alam dalam pasal 33) jangan hanya dihambur-hamburkan hanya untuk konsumsi BBM tetapi dialokasikan pada sektor yang lebih produktif, yang akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar (sebesar-besarnya, dalam pasal 33).  Ini yang dimaksud dengan anggaran belanja dan pendapatan yang mampu menjadi leverage (pengungkit/pendongkrak) perekonomian negara..

Sedikit komentar dari data yang saya dengar dari Pak Kwik Kian Gie itu, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada beliau...

Pak Kwik hanya melihatnya dari aspek yang sangat sempit (harga BBM saja), itu yang saya maksud dengan pandangan yang setengah2 atau parsial dalam komentar saya terdahulu

sekian dulu...ya...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>He..he&#8230;, dengan rasa hormat saya hargai upaya penyajian slide yang diberikan mas Ridlo&#8230; <a href="http://roro77.wordpress.com/2008/06/04/subsidi-bbm-memang-benarkah-ada/" rel="nofollow">http://roro77.wordpress.com/2008/06/04/subsidi-bbm-memang-benarkah-ada/</a></p>
<p>Tetapi, saya harus memberikan tanggapan yang proporsional utuk itu.</p>
<p>Jika pun data yang diberikan itu benar adanya, maka perlu saya jelaskan:</p>
<p>Dalam akuntansi (sy bukan orang akuntansi, tapi sedikit banyak belajar akuntansi), dengan tujuan penyajian laporan keuangan yang lebih adil, obyektif dan informatif maka baik untuk sisi pengeluaran maupun sisi pemasukan (pendapatan) harus ditulis sesuai dengan nilainya sekarang (present value)</p>
<p>BBM juga demikian, harganya atau nilai sekarangnya harus dilaporkan sebagai ssi pemasukan (pendapatan) negara dulu, ini fair (jadi dihitung dengan harga berlaku atau nilai barangnya sekarang, harga minyak sekarang). kemudian ditambahkan dari pemasukan2 yang lain seperti sektor pajak dan sebagainya.  Nah, pada saat yang sama diinvertarisir keperluan pembelanjaan negara termasuk belanja rutin dan belanja yang sifatnya produktif, jika keperluan belanja defisit akan diambilkan opsi hutang, misalnya.</p>
<p>Apa konsekuensinya??</p>
<p>Ya, kalo dibandingkan dengan harga minyak US$ 90/barrel sebagaimana yang pernah diasumsikan dalam APBN ya, negara rugi karena proyeksi pendapatannya tidak akan sebesar yang dipehitungkan</p>
<p>Kalo sudah demikian, apa yang akan terjadi&#8230;.</p>
<p>Konsekuensinya adalah sebenarnya terjadi hilangnya kesempatan bangsa atau negara yang diwakili pemerintah untuk memanfaatkan momentum peningkatan pendapatan ini untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemajuan  perekonomian&#8230;.</p>
<p>Ingatkan kita tentang jalan2 yang berlubang yang menyebabkan high cost pada industi manufaktur kita sehingga sulit bersaing dengan produk luar&#8230;.</p>
<p>Sekolah-sekolah di pelosok yang tidak terawat bahkan nyaris ambruk&#8230;&#8230;</p>
<p>Tingkat kematian Ibu melahirkan yang termasu tertinggi di dunia&#8230;..</p>
<p>Bayi gizi buruk di mana-mana&#8230;..</p>
<p>Lihatlah bagaimana negara-negara maju mampu memberikan jaminan hidup yang jauh lebih layak kepada rakyat miskinnya&#8230;.</p>
<p>Alokasi anggaran pendidikan 20% sulit direalisasikan&#8230;..</p>
<p>Kita nggak bisa berbuat banyak selama ini mengapa?.  Karena kita nggak punya cukup uang Bung (Itu saja)&#8230;.</p>
<p>Jadi, kalo anda atau mahasiswa berteriak2 alokasi pendidikan 20% itu, ya pemerintah nggak bisa berbuat banyak&#8230;Karena nggak ada cukup uang..</p>
<p>Bahkan kejadian krisis moneter pertengahan tahun 1997 lalu, yang berkembang menjadi krisis ekonomi dan mencapai puncaknya menjadi krisis multidimensional, yang dimulai dari jatuhnya mata uang Bath Thailand kemudian berimbas pada Indonesia nggak bisa dicegah, kenapa? </p>
<p>Karena kita nggak punya cukup uang untuk mengintervensi perdagangan valas, sehingga nilai tukar rupiah jatuh jauh dari nilai psikologisnya yang pada saat itu hanya sebesar sekitar Rp.2000-2500 menjadi menembus 10.000 bahkan di atas 15.000 dan konsekuensinya inflasi malah tak terbendung lagi, susah diatasi.  mau terjadi seperti itu lagi.  Nggak???, ya konsekuensinya negara harus memilii cadangan devisa yang lebih dari cukup&#8230;.</p>
<p>Nah, inilah yang dimaksud pasal 33 UUD 45 tentang kekayaan alam dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.</p>
<p>Jadi hasil dari nilai atau harga sekarang minyak kita (kekayaan alam dalam pasal 33) jangan hanya dihambur-hamburkan hanya untuk konsumsi BBM tetapi dialokasikan pada sektor yang lebih produktif, yang akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar (sebesar-besarnya, dalam pasal 33).  Ini yang dimaksud dengan anggaran belanja dan pendapatan yang mampu menjadi leverage (pengungkit/pendongkrak) perekonomian negara..</p>
<p>Sedikit komentar dari data yang saya dengar dari Pak Kwik Kian Gie itu, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada beliau&#8230;</p>
<p>Pak Kwik hanya melihatnya dari aspek yang sangat sempit (harga BBM saja), itu yang saya maksud dengan pandangan yang setengah2 atau parsial dalam komentar saya terdahulu</p>
<p>sekian dulu&#8230;ya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: roro</title>
		<link>http://www.ridhocyber.web.id/harga-bbm-naik-antrian-pom-bensin-membludak/comment-page-1/#comment-1159</link>
		<dc:creator>roro</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 22:53:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.ridhocyber.web.id/?p=180#comment-1159</guid>
		<description>yaa.., memang selalu ada dua sisi mata uang dari sebuah keputusan. ada yang melihat dari sisi ini, dan juga sisi itu. dan keduanya ga ada yang bisa dipersalahkan.

saya dulu juga mendukung kenaikan BBM ini, karena hal ini menurut saya adalah sesuatu yang wajar jika dibandingkan dengan keadaan dunia saat ini. namun saya akui, semua ke-setuju-an saya itu tidak dilandasi oleh pengetahuan yang benar tentang pengaturan harga BBM dan dampak-dampaknya di masyarakat. keputusan saya untuk mendukung hanya murni berdasarkan logika (dan mungkin ini terjadi pada sebagian besar cara berpikir masyarakat). dan ketika saya menemukan data baru, saya menjadi bertanya apakah tepat kenaikan BBM ini?

apapun yang ada di pikiran kita sekarang ini, saya pikir kemampuan kita hanyalah sebatas berkomentar dan mengkritisi. yang sudah naik ya akan tetap seperti itu, karena kita hanyalah rakyat yang mengikuti aturan pemerintah. 

oleh karena itu,, daripada mahasiswa demo sana sini bikin bentrok dimana-mana, ayolah kita kasi support ke masyarakat biar lebih percaya diri dan lebih giat dlm berusaha melewati masa sulit ini. kasi kontribusi yang konret, bukan dengan asal cuap n demo. 

moga masa2 sulit ini cepat terlewati...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yaa.., memang selalu ada dua sisi mata uang dari sebuah keputusan. ada yang melihat dari sisi ini, dan juga sisi itu. dan keduanya ga ada yang bisa dipersalahkan.</p>
<p>saya dulu juga mendukung kenaikan BBM ini, karena hal ini menurut saya adalah sesuatu yang wajar jika dibandingkan dengan keadaan dunia saat ini. namun saya akui, semua ke-setuju-an saya itu tidak dilandasi oleh pengetahuan yang benar tentang pengaturan harga BBM dan dampak-dampaknya di masyarakat. keputusan saya untuk mendukung hanya murni berdasarkan logika (dan mungkin ini terjadi pada sebagian besar cara berpikir masyarakat). dan ketika saya menemukan data baru, saya menjadi bertanya apakah tepat kenaikan BBM ini?</p>
<p>apapun yang ada di pikiran kita sekarang ini, saya pikir kemampuan kita hanyalah sebatas berkomentar dan mengkritisi. yang sudah naik ya akan tetap seperti itu, karena kita hanyalah rakyat yang mengikuti aturan pemerintah. </p>
<p>oleh karena itu,, daripada mahasiswa demo sana sini bikin bentrok dimana-mana, ayolah kita kasi support ke masyarakat biar lebih percaya diri dan lebih giat dlm berusaha melewati masa sulit ini. kasi kontribusi yang konret, bukan dengan asal cuap n demo. </p>
<p>moga masa2 sulit ini cepat terlewati&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
