hosting provider

Harga BBM Naik, Antrian POM Bensin Membludak!

Antrian Kenaikan BBM di Pom BensinKemaren saya sempat cerita tentang pembatasan pembelian BBM di pom bensin yang di lakukan oleh pihak pertamina dan pom bensin, yang cukup membuat kita semua untuk lebih hemat lagi dalam penggunaan BBM.

Dan hari ini tepatnya 24 mey 2008, Pemerintah kembali menetapkan kebijakan baru, yang sudah pernah di lakukan beberapa waktu lalu, yaitu : menaikan harga BBM, untuk mengurangi subsidi BBM!

Dikarenakan ketidak mampuan Negara kita untuk memenuhi konsumsi BBM dalam negeri, sehingga harus mengimport BBM dari luar dan pasti dengan harga mahal, padahal negara kita itu termasuk dalam organisasi OPEC (singkatan dari Organization of the Petroleum Exporting Countries) kalo dalam bahasa indonesianya : Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi. lho kok lucu, ikut organisasi OPEC tapi kok BBM untuk negara sendiri aja gak terpenuhi, sampe sampe harus beli dari luar :) ) dan ujung2nya di lepas ke masyarakat juga dengan harga mahal. dan untuk mencapai harga standart tanpa subsidi, terpaksa harga di naikan bertahap!

Saat ini Indonesia juga sedang mempertimbangkan untuk keluar organisasi OPEC (singkatan dari Organization of the Petroleum Exporting Countries) mengingat Indonesia kini telah menjadi importir minyak dan tidak mampu memenuhi kuota produksinya. padahal minyak bumi di indonesia tercinta ini masih melimpah ruah! hmmm…..

Sekarang Demonstrasi kenaikan BBM di mana mana, namun tidak ada kompromi dan harga BBM tetap naik juga! kemana lagi kita harus mengadu!

Ok deh, itu sekedar pengantar kenaikan BBM di negara tercinta ini, dan disisi lain saya melihat beberapa kejadian yang saya anggap patut juga saya ceritakan di sini!

Fenomena yang sering terjadi Pra kenaikan BBM adalah, Masyarakat berbondong2 ke POM bensin hingga mengakibatkan kemacetan di jalanan, untuk mengisi Tanki kendaraannya sampai penuh, dan rela ngantri hingga berjam jam, demi mendapatkan bensin dengan harga lebih murah sebelum kenaikan harga di tetapkan! padahal seperti kemarin saya ceritakan masalah pembatasan BBM , artinya dengan mengantri berjam jam pun, yah cuman bisa ngisi 15rb untuk kendaraan roda dua, dan 75rb untuk kendaraan roda empat!

Kalo kita pikir2 dengan logis, khan sayang tuh harus ngatri berlama lama, padahal cuman dapet beberapa liter bensin, dan pastinya akan menyita waktu dan tenaga! padahal BBM yang di isi juga dibatasi! kalo di bandingkan dengan waktu yang dihabiskan juga tenaga yang di keluarkan, pasti sangat tidak sebanding antara selisih harga BBM Pra kenaikan dan waktu serta tenaga!

Bagi saya lebih baik, waktu itu dipakai untuk hal lain yang kira2 lebih bermanfaat! toh mungkin lebih baik dari pada nganti panas panasan, dan mendapatkan sesuatu yang tidak sebanding! bahkan ada yang rela meninggalkan pekerjaan kantor atau rumah, demi mendapatkan BBM pra kenaikan, tapi itulah fenomena sering terjadi di masyarakat kita! maaf “kadang suka aneh!”

Mungkin ada di antara teman teman sekalian yang ikut ngantri pada tanggal 23 kemaren?

Image Source : http://c4nt1q.files.wordpress.com/2007/11/img_0301.jpg


Follow this blog
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Iklan Baris Gratis

31 Responses to “Harga BBM Naik, Antrian POM Bensin Membludak!

  • zee
    1
    zee
    May 24th, 2008 22:07

    Klo sy dulu pernah ikut ngantri. Tp klo kemarin enggak. Soalnya sy pake SUper dari shell, jd ga pernah lg pake premiumnya pertamina.
    Apalagi, udah ngantri berjam2 jg dibatasi, mustinya pihak spbu buat pengumuman ttg pembatasan jd yg udah ngantri tdk keburu kecewa.

    zees last blog post..Fabulous Dads

  • Okta Sihotang
    2
    Okta Sihotang
    May 25th, 2008 04:50

    harga BBM naik, pasti harga2 bahan yang lain ikut naik :(

    Okta Sihotangs last blog post..BBM Naik…

  • jimmy
    3
    jimmy
    May 25th, 2008 06:11

    kemaren mau beli bensin tapi antrian panjang banget, akhirnya gak jadi, daripada habis waktu cuma buat ngantri, toh nanti juga habis lagi dan harus beli lagi dengan harga yang mahal.. kalo ikutan ngantri cuma hemat gak seberapa tapi habis waktu sangat banyak

    jimmys last blog post..BBM Naik diikuti Alexa

  • ridhocyber
    4
    ridhocyber
    May 25th, 2008 09:29

    zee @ SUper dari shell itu harganya gimana kalo di bandingkan dengan pertamina sebagai penyedia BBM nasional? seandainya lebih murah kayaknya kita semua harus beralih ke penyedia BBM swasta nih!

    Okta Sihotang @ bener banget mas Okta, Semua kebutuhan lainnya sangat tergantung dengan yang namannya BBM alias bahan bakar minyak itu! kalo sudah begini bakal mahal semua kebutuhan sehari2 kita! hidup terasa lebih berat!

    jimmy @ untung aja gak ngantri mas jimmy, memang lebih baik mengerjakan hal lain yang lebih bermanfaat ketimbang ngantri BBM yang gak seberapa itu!

  • ichaawe
    5
    ichaawe
    May 25th, 2008 10:53

    perasaaan dimesir sini jg BBm naek
    tapi gak ada tuh pemandangan kayak gitu…
    bener2 aneh degh

    ichaawes last blog post..Pintu Ka’bah

  • yudi
    6
    yudi
    May 25th, 2008 16:48

    kalo bensin masi ada pasti males ngantre, tapi kalo dah kosong melompong ya terpaksa dah panas panasan ngantre :-(

    yudis last blog post..Deja Vu, apakah itu?

  • ridhocyber
    7
    ridhocyber
    May 25th, 2008 17:11

    ichaawe @ mungkin di mesir tidak di ajarkan untuk budaya ngantri kali yah! he he, kalo di indonesia khan sejak kecil kita di ajarkan untuk mengikuti budaya bebek , yaitu mengantri , hi hi

    yudi @ kalo terpaksa harus pake kendaraan pribadi yah terpaksa harus ngantri, tapi khan masih ada solusi lain, masih banyak kendaraan umum!

  • Teguh Aditya
    8
    Teguh Aditya
    May 27th, 2008 00:10

    di bandung aja yang nganti panjang banget..

  • elja
    9
    elja
    May 27th, 2008 19:33

    mas rudho…(makasih info yang kemaren masuk blog saiya)
    menanggapi isu BBm, memang mau gak mau kita harus ngikut….nah untuk mengantisipasi mahalnya harga BBM, kita bisa memanfaatkan kendaraan non – machine …..nah seperti sepeda, toh komunitas Bike To Work juga sudah mulai menjamur…..sekarang tergantung kita untuk memanagement keuangan kita sendiri….save the world NOW!!!

    eljas last blog post..top list yogyakarta night club

  • ridhocyber
    10
    ridhocyber
    May 28th, 2008 01:00

    Teguh Aditya @ di mana mana ngantri mas! sekarang malah demo di mana mana tambah parah, dan sempat presiden di tuntut 1 milyard!

    elja @ makasih juga sudah menghapus comment yang saya tulis kemaren :)
    good idea juga kalo kita makai kendaraan non machine, hitung hitung olahraga yah, tapi untuk kebutuhan tertentu terpaksa kita harus menggunakan kendaraan bermesin, yah mungkin pass perjalanan jauh khan gak mungkin naik sepeda khan :)

  • baladika
    11
    baladika
    May 28th, 2008 06:49

    oh tidaakk.. saya keliatan lagi antri tuh… :-SS

    baladikas last blog post..Internet Murah

  • eenx
    12
    eenx
    May 28th, 2008 22:40

    BBM Naik? mending naek sepeda aja bro! kayak aku nih, ayo ayo kita naik sepeda, naik sepeda lagi tut tut tut

    eenxs last blog post..Emosi dipermainkan saat menonton Thomas dan Uber Cup

  • pututik
    13
    pututik
    May 30th, 2008 02:12

    Untuk dijakarta kalo ke kantor aku jalan kaki :P

    pututiks last blog post..Pembenahan Situs

  • Pembenahan Situs « BLOG is Not Enough or pututik
    14
    Pembenahan Situs « BLOG is Not Enough or pututik
    May 30th, 2008 17:17

    [...] situs yang sebelumnya telah banyak memberi kontribusi keuangan untuk biaya hosting. Karena masalah naiknya BBM juga terasa terhadap kelangsungan hidup situs-situs yang kebanyakan akan habis akhir tahun ini. [...]

  • Alimun Bidatisudur (Ali)
    15
    Alimun Bidatisudur (Ali)
    June 4th, 2008 17:41

    Sudah saatnya, kita berpikir secara integral dan holistik. Perbedaan pendapat akan menunjukkan kualitasnya jika kita mampu berpikir secara menyeluruh dan menyatu.

    Perbedaan pendapat yang dilandasi cara berpikir yang setengah2 dan parsial tidak akan banyak memberikan manfaat dan sulit melahirkan solusi yang tepat

    Kalo kita membandingkan dengan Venezuela dengan harga BBM murahnya, maka yang terjadi adalah perkembangan pembangunan kita juga akan seperti Venezuela, Mau???

    Mengapa???

    Lha……, belanja negara banyak terkuras hanya untuk kebutuhan pemenuhan subsidi BBM.

    Bagaimana untuk memajukan pendidikan yang tertinggal dg Malaysia yang harga BBMnya di atas 10.000 (padahal Malaysia net exporter, Indonesia sudah menjadi net importer). Malaysia mampu meningkatan kualias pendidikannya karena mampu membiayai pendidikan dg jauh lebih baik dan membuat para guru mampu meningkatkan profesionalismenya karena punya biaya yang cukup untuk itu.

    Lihatlah indikator kemajuan dari negara2 yang sukses menjadi negara maju, pengelolaan belanja negara yang produktif akan mampu menjadi leverage (pengungkit) bagi peningkatan pembangunan negara secara signifikan

    Jadi sebagai mahasiswa atau rakyat jangat beripikir serakah….
    Maunya segalanya dituruti…..
    BBM Murah….
    Pendidikan murah bahkan gratis….
    Rakyat tidak mampu mendapatkan jaminan standar (kesehatan, dll)…..
    Bebas penyakit….
    Bebas gizi buruk …..
    Jalan tidak berlubang……

    Trus, pikirlah dg jernih…. Darimana negara mampu membiayai seluruh keinginan itu???. Maka negara perlu uang (pendapatan)

    Sehingga APBN harus mencerminkan rencana strategi pemerintah untuk mengalokasikan pendapatan dan belanja yang produktif

    Kalo Anda tidak mengerti makna belanja produktif, jangan banyak berkomentar tentang kenaikan BBM yang akhirnya menyesatkan cara berpikir banyak orang…..

    Belanja disebut produktif jika belanja mampu menghasilkan dan meningkatkan manfaat yang berlipat2 dan terukur jelas, sebagaimana yang sudah dicapai oleh negara2 yang terbukti sudah maju

    Anda ingin negara kita maju, tapi perilaku APBN kita anda paksa seperti perilaku APBN negara terbelakang, gimana bisa???….

    Tidak setuju kenaikan BBM karena memicu inflasi tinggi (akhirnya meyusahkan rakyat) ????
    Itulah konsekuensi dari sebuah pilihan. Tetapi apakah permasalahan itu kemudian menyebabkan kita salah memilih kebijakan yang akhirnya bahkan akan menyengsaran rakyat selama berabad2. mengapa???

    Lah iya, wong pendidikan ya akan begini2 saja, jaminan pada oang tidak mampu ya sekedarnya, penyakit menjangkit dimana2, kematian ibu melahirkan sangat tinggi, akses kesehatan bagi orang miskin susah didapat, gizi buruk terjadi dimana2, dan lain-lain. Kita ngap bisa berbuat banyak karena nggak punya banyak uang bro….

    Inflasi tinggi itu (kalo tidak terjadi secara beruntun dan dalam waktu yang singkat) maka tidak akan banyak menimbulkan persoalan (tidak terlalu merisaukan). Permasalahan (kerisauan) hanya terjadi di awal saja, asalkan pemerintah juga mampu me-manage inflasi itu dg baik.

    Setelah inflasi tinggi, asalkan tidak ada faktor pemicu inflasi yang lainnya termasuk unsur ketidakpastan ekonomi (bisa disebabkan ketidakpastian keamanan, seperti demo yang anarkis), maka inflasi akan teredam dg sendirinya apalagi kalo dikombinasikan dg kebijakan pemerintah untuk meredam inflasi.

    Mekanisme pasar juga akan bergerak dg sendirinya mengikuti besaran inflasi.

    Pedagang di pasar juga akan menaikkan harga jualnya, sehingga pendapatannya naik….

    Gaji pegawai negari sudah sejak dulu di awal pemerintahan ini dinaikkan hingga 100%, misal untuk freshworker dari 750 rb menjadi 1,5 juta…

    Memang masih ada permasalahan dg penduduk berpendapatan tetap, tapi itulah masalah yang masih harus kita hadapi….

    Tetapi perlu dicatat juga bahwa Perusahaan juga akan menaikkan harga jual produknya sehingga ada konsekuensi nantinya upah buruh juga harus dinaikkan…..

    Hal ini membuktikan bahwa pendapatan tetap pun akhirnya akan dapat disesuaikan dan melakukan penyesuaian, tetapi memang lebih butuh waktu….

    Intinya adalah untuk setiap kejadian inflasi maka mekanisme pasar akan bergerak dan mampu mengkondisikan perekonomian kembali pada posisi kesetimbangan pada akhirnya….

    Yang dirasakan sekarang adalah kesusahan akibat inflasi yang tinggi itu, maka bersabarlah. Rasa sakit Itu adalah konsekuensi dari pilihan terbaik ini untuk menghindarkan kita dari kesengsaraan yang bisa saja berlangsung dan berlanjut selama berabad2 yang akan datang, yang akan kita sesali sebagaimana kita menyesali misalnya mengapa kita tertinggal dari Malaysia sampai saat ini

    Jadi jangan sampai Anda semakin menyusahkan rakyat yang sudah susah dengan demo yang anarkis….

    Cukup itu dulu dari saya ya……

  • Markus
    16
    Markus
    June 4th, 2008 18:40

    @Alimun Bidatisudur (Ali)

    well said, saya setujuh dengan sampean.

    Markuss last blog post..Xen Debian VPS Problem With nash-hotplug Using 100% CPU Resource

  • sugeng
    17
    sugeng
    June 4th, 2008 19:17

    setuju2x, BBM memang pantas naik,klo ga naik negara indonesia akan tetap menjadi negara termiskin didunia,karena rakyatnya minta subsidi terus, Minta terus…. Beli dong, klo dijogja antrian BBM it cuman 1 hari, hari esoknya masih seperti biasa,masih harga 6000 per liter bensin, paling mentok nanti harga Bensin itu sekitar 12000 per liter, mantap ga?? itu bukan perkiraan lho ak pernah baca dikoran bahwa harga BBM di indonesia dibandingkan dengan negara2 lain sangat murah, makanya banyak kecurangan2 dengan membeli minyak diindonesia dengan harga murah kemudian dijual di malaysia atau singapura dengan harga selangit, mantap… yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin…. mantap3x

    sugengs last blog post..Kenangan di WAMIKA

  • DimasCyber
    18
    DimasCyber
    June 4th, 2008 19:33

    mmmmm….. mo ngomong apa ya…..

    terus terang komentar Alimun Bidatisudur (Ali) memang ada benar nya, komentar dari Alimun Bidatisudur (Ali) berbeda dgn pola pikir mahasiswa. Berbeda pendapat itu wajar2 saja antara beberapa pola pemikiran.

    Tpi sepertinya komentar Alimun Bidatisudur (Ali) tidak sesuai dengan apa yn diposting oleh pak Ridho, krna apa yang diposting oleh pak Ridho hanya sebatas pengamatan pak Ridho terhadap dampak kenaikan BBM, bukan provokasi (menurut saya)

    Pola pikir mahasiswa yg menentang kenaikan BBM dilandaskan ketidaksabarannya menanti datangnya keseimbangan. Karena memang butuh waktu bahkan butuh korban untuk menciptakan kesetimbangan hidup pasca kenaikan BBM. Butuh waktu, karena untuk penyesuaian harga-harga dengan pendapatan memang butuh waktu cukup lama. Butuh korban, pasca kenaikan BBM, yang pasti ada korban. Warga miskin makin bertambah karena banyak warga yg sudah tidak sanggup menunggu adanya kesetimbangan atau kestabilan, atau tidak sanggup menyesuaikan diri dengan keadaan. Bahkan ada yg nekat bunuh diri. Kalo sudah liat keadaan seperti ini, siapa sih yang tidak ingin berontak.

    Jadi menurut saya wajar, kalau sebagian mahasiswa menentang kenaikan BBM, krn mewakili nurani rakyat, karena DPR yg notabene wakil rakyat pun tidak berkutik. Mahasiswa merupakan wakil rakyat kedua di negeri ini setelah DPR.

    Tapi yg perlu disayangkan adalah demo yg dilakukan mahsiswa yg anarkis, itu perlu disesalkan. Apa sih manfaatnya, memblokir jalan, merusak fasilitas umum, itu sama saja menambah menyengsarakan rakyat. mengganggu mereka yang sedang mencari nafkah.

    Malah kadang timbul dibenak pemikiran saya, siapa sih yg ga punya otak?Pemerintah yg tidak berpihak pada rakyat atau mahasiswa yg demo anarkis….

    Jadi alangkah lebih bijak bila segala sesuatu dibicarakan secara kepala dingin, duduk bersama, sambil minum kopi plus makan pisang goreng…kan enak tuh….

    So….never mine….berharap…berusaha…dan berdoa…

  • Arin
    19
    Arin
    June 4th, 2008 20:29

    emang sech kaya pendapat mas Ali ada benernya, tp yg plg ptg tuh ketegasan pemerintah terhdp swasta ato pihak terkait. knp msh byk jg org yg bs beli bbm pake jerigen, pdhl peraturan ’sudah membatasi’ (biarpun batasan2 msh krg begitu jelas…).

    back 2 main topic, aku membenarkan mas Ridho. kita liat aja brp byk perusahaan minyak asing di Indonesia. selain kontribusi berupa minyak olahan (produk mereka), ada jg ‘pajak pemerintah’ yg gak jelas mengalir kemana… aku tau pasti karena aku pernah bekerja sbg konsultan kontrak diperusahaan tsb (daerah Riau). sementara industri minyak kita “mr P” hanya bertopang dagu menunggu setoran ekspor mereka kenegara tetangga.

    aku cuma ingin pemerintah memikirkan kesejahteraan rakyat. bkn lewat sumbangan khusus rakyat miskin, tp yg lebih real kaya lapangan kerja ato perizinan untuk UKM (Usaha Kecil Menengah). pemerintah hrs berhenti memanjakan rakyatnya.

    Indonesia smkn terpuruk… Bygin aja, sktr 10 taon lalu 1 Rupiah lebih brarti dr 1 Rupee (India). namun skrg 1 Rupee = 200 Rupiah.

    jd aku harap, forum ini bukan memuat makian ato kesedihan kita, tp lebih pada pencarian solusi untuk membuka pikiran n nurani kita. bkn salah mahasiswa ato pemerintah, yg salah adalah harga BBM Internasional meningkat pesat…

    Hemat BBM demi menghemat pengeluaran, hehe!!!

  • nuklea
    20
    nuklea
    June 5th, 2008 03:37

    sekadar berbagi wacana: 8 opsi menjawab BBM Naik

    Pertama, pemerintah bohong kalau negara lebih banyak menyubsidi orang-orang kaya melalui BBM. Pemerintah memang menyubsidi orang kaya, tapi tidak melalui BBM, melainkan melalui bunga obligas rekapitulasi perbankan yang jumlahnya lebih dari Rp 65 triliun dalam APBN P 2008. Bahwa rakyat bukanlah penikmat Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan obligasi rekap perbankan yang mencapai Rp 645 triliun lebih, melainkan para konglomerat hitam pengemplang uang negara, merupakan fakta yang tidak bisa dibantah.

    Pilihan pemerintah membayar bunga obligasi rekap ketimbang mempertahankan subsidi BBM sebesar Rp 25 triliun merupakan contoh nyata bahwa pemerintah lebih memihak konglomerat ketimbang rakyat miskin. APBN tersandung dan berdarah-darah bukan karena subsidi BBM, tetapi karena bunga obligasi rekap perbankan dan utang yang dibebankan secara tidak adil kepada rakyat. Sebagian besar utang itu dibuat atas desakan IMF yang menjerumuskan bangsa dalam kehancuran. Dalam istilah Alexander Nahum Sack, utang itu adalah utang najis (odious debt) yang tidak layak ditanggung rakyat.

    Dalam APBN P 2008, cicilan pokok dan bunga utang luar negeri mencapai Rp 90,73 triliun. Jika ditambah pembayaran cicilan pokok dan bunga utang dalam negeri, jumlah totalnya mencapai Rp 155,73 triliun. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat anggaran untuk mengurangi kemiskinan yang cuma Rp 67 triliun.

    Karena terjepit utang, pemerintah membohongi rakyatnya dengan menyatakan bahwa sebagian besar uang yang dihemat dari pengurangan subsidi BBM itu akan dikembalikan kepada rakyat. Padahal, dari Rp 25 triliun yang dikumpulkan dari penghematan subsidi, hanya 45 persen (Rp 11,5 triliun) yang dikembalikan kepada 19,1 juta keluarga miskin dalam bentuk BLT. Selebihnya untuk mereduksi defisit APBN dan membayar utang, sebagaimana diakui sendiri oleh Wapres Jusuf Kalla.
    Kedua, pemerintah tidak jujur mengakui bahwa yang disebut dengan subsidi bukanlah cash transfer. Subsidi bukanlah uang tunai yang diberikan negara kepada rakyat. Subsidi adalah selisih harga yang dihitung dari minyak yang sebagian besar masih diambil dari perut bumi Indonesia terhadap harga minyak di pasar dunia yang ditentukan oleh NYMEX (New York Mercantile Exchange).

    Pemerintah merasa rugi jika minyak milik rakyat dijual kepada rakyat tetapi di bawah harga minyak dunia. Dalam pikiran para ekonom neoliberal, selisih harga BBM dalam negeri dengan harga minyak di pasar dunia disebut subsidi. Padahal, subsidi bukanlah kerugian. Kalaupun rugi, ruginya adalah opportunity loss, bukan real cash money loss. Untuk minyak mentah dan BBM yang diimpor, pemerintah memang harus menyubsidi. Namun, berapa besaran sesungguhnya subsidi itu, bagaimana cara menghitungnya, berapa biaya produksi BBM per liter, tidak pernah dijelaskan secara terbuka oleh pemerintah.

    Ketiga, menyatakan bahwa menaikkan BBM akan menolong rakyat kecil mengingkari fakta bahwa BBM adalah nyawa dari semua jenis industri yang memiliki dampak dua arah, terhadap produsen dan konsumen. Rakyat pasti akan terpukul oleh naiknya barang-barang, karena jika BBM naik, para pengusaha akan melimpahkan bebannya kepada konsumen. Dalam situasi di mana daya beli rakyat hancur, bantuan tunai sebesar Rp 100.000 tidak akan bisa menolong rakyat miskin dari keterpurukan.

    Kenaikan harga BBM sekitar 30 persen diperkirakan akan menambah 16,92 persen jumlah pengangguran, 8,5 persen angka kemiskinan (sehingga menjadi 19.1 persen), menurunkan PDB sekitar 4,11 persen. Sebaliknya, indeks harga konsumen akan naik sebesar 26,94 persen dan inflasi mencapai 11.1 persen. Dalam situasi yang serba terpuruk itu, BLT Rp 100.000 untuk 19.1 juta keluarga miskin seperti menabur garam di tengah lautan keterpurukan. BLT juga diragukan efektivitasnya, sebab ia mengacu kepada data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005. Padahal, banyak perubahan yang terjadi selama kurun waktu dua tahun terakhir. Pasca kenaikan harga BBM pada akhir 2005, semakin banyak warga yang terpuruk akibat usahanya bangkrut yang menyebabkan jumlah kemiskinan bertambah.

    Dengan sejumlah alasan di atas, FKB DPR RI menolak rencana kenaikan harga BBM. Untuk menyelamatkan APBN P 2008 dari kebangkrutan, FKB mengusulkan pemerintah RI menempuh sejumlah langkah strategis sebagai berikut.
    Pertama, pemerintah harus segera menempuh langkah-langkah penting untuk meningkatkan produksi minyak nasional. Defisit fiskal akibat kenaikan harga minyak mentah dunia terjadi karena produksi minyak nasional terus merosot sejak tahun 1999. Dengan produksi rata-rata 910.000 bph, sementara konsumsi kita minimal 1,3-1,35 juta bph, berarti terjadi defisit setidaknya 400.000 barrel.
    Kinerja sektor energi yang memprihatinkan ini semakin runyam sejak terbitnya UU No 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang merombak prosedur investasi hulu migas menjadi lebih rumit, dari satu atap menjadi lima atap, dan mengenakan sejumlah pungutan pajak pada periode eksplorasi. Ketentuan ini membuat realisasi investasi sektor hulu sangat rendah.

    Pada tahun 2007, misalnya, dari rencana investasi eksplorasi sebesar US$2,3 miliar, realisasinya hanya sekitar US$500 juta. Pada 2008, pemerintah menargetkan investasi migas mencapai US$14,4 miliar atau naik 42,6 persen. Harapan ini bisa kandas, karena ‘penyakit’ dalam UU Migas, khususnya Pasal 31 tentang pajak eksplorasi, belum dihilangkan. Hambatan ini hendak direduksi pemerintah dengan menerbitkan Permenkeu No 177/PMK 011/2007, Permenkeu No 178/PMK 011/2007, dan Permenkeu No 179/PMK 011/2007, yang membebaskan bea masuk impor barang untuk kegiatan usaha hulu migas dan panas bumi, menanggung pajak pertambahan nilai (PPN) impor barang untuk kegiatan eksplorasi hulu migas dan panas bumi, sekaligus membebaskan bea masuk impor alat pengeboran produksi terapung dan laut dalam.

    Niat pemerintah sudah baik, tetapi tidak benar karena paket Permenkeu tadi menabrak ketentuan yang lebih tinggi, yaitu UU No 22/2001 tentang Migas dan UU No 17/2006 tentang Kepabeanan yang menetapkan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI). Permenkeu jelas tidak bisa membatalkan undang-undang.
    Karena minimnya investasi di sektor eksplorasi, cadangan minyak Indonesia kian menipis, tinggal sekitar 9 miliar barel (gabungan cadangan terbukti dan potensial). Tanpa penemuan cadangan minyak baru, penambahan produksi sulit dilakukan, sebab lebih dari 90 persen sumur migas Indonesia merupakan lapangan tua. Penambahan produksi sulit diharapkan dari sumur-sumur yang sudah dieksploitasi lebih dari 100 tahun. Bahkan, jika Blok Cepu dan Lapangan Pondok Tengah Bekasi segera berproduksi, tambahannya tidak bisa menutup jumlah konsumsi yang terus meningkat. Akibat dari jatuhnya produksi adalah penurunan penerimaan negara. Pada 2007, misalnya, penerimaan migas hanya Rp 174 triliun, turun dibandingkan 2006 yang Rp 207 triliun.

    Padahal, harga minyak Indonesia naik dari rata-rata US$63,86 per barel di tahun 2006 menjadi US$72,3 per barel di tahun 2007. Karena situasi industri migas nasional sudah sangat genting, pemerintah sebaiknya menerbitkan Perppu untuk mengganti UU Migas, ketimbang Permenkeu yang melanggar ketentuan di atasnya.
    Kedua, pemerintah harus segera menempuh langkah-langkah menambah penerimaan negara di sektor migas, antara lain dengan mengefisiensikan biaya produksi migas (cost recovery) yang terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Cost recovery yang diajukan BP Migas pada 2007, misalnya, mencapai US$10,4 miliar atau sekitar Rp 93,9 triliun. Jumlah itu mencapai 30 persen dari keseluruhan pendapatan kotor sektor migas tahun 2007 yang diperkirakan mencapai US$35 miliar atau sekitar Rp 321 triliun.

    Bagian pemerintah dari pendapatan migas setelah dipotong bagian kontraktor hanya sekitar Rp 105 triliun. Inefisiensi cost recovery mengacaukan formula baku pembagian PSC (Production Sharing Contract) 85 : 15 (85 persen bagian pemerintah dan 15 persen bagian kontraktor), sebab kenyataannya bagian pemerintah seringkali tinggal 50-55 persen setelah dipotong cost recovery. Jika cost recovery bisa ditekan hingga 15 persen, jumlah ini cukup untuk menutup defisit APBN.

    Sejurus dengan upaya ini, pemerintah harus segera memproses pengembalian uang negara dalam penyimpangan cost recovery yang merugikan negara oleh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sebagaimana diungkap BPK dan BPKP sebesar US$2.53 miliar dan Rp 18.067 triliun. Jika uang ini bisa selamatkan, APBN P 2008 akan mendapat napas tambahan tanpa membebani rakyat dengan pencabutan subsidi. BPK juga harus segera mengaudit neraca keuangan BP Migas. Selama ini, karena biaya operasional BP Migas tidak diambil dari APBN, melainkan dari fee (pungutan) pemerintah dan kontraktor, publik tidak tahu pasti seberapa besar biaya operasional yang dihimpun BP Migas. Karena bukan institusi bisnis, BP Migas tidak mempunyai semacam Dewan Komisaris yang bisa mengontrol neraca keuangannya, termasuk besaran cost recovery yang telah disetujuinya.
    Ketiga, ketimbang ‘mengerti’ uang subsidi sebesar Rp 25 triliun, pemerintah dapat mengenakan windfall profit tax terhadap kontraktor Production Sharing di Indonesia. Windfall profit tax adalah pajak tambahan yang dikenakan setelah bagian pemerintah dan kontraktor diperhitungkan sesuai kontrak. Setelah itu, terhadap bagian laba kontraktor dikenakan lagi tambahan pajak. Windfall profit tax bisa diterapkan jika harga minyak dunia 10 persen di atas ICP. Jika ICP sebagaimana ditetapkan APBN P 2008 adalah 95 dollar AS per barrel, maka begitu harga minyak mencapai US$104,5 per barel, windfall profit tax langsung diterapkan. Pemerintah potensial mendapat pemasukan pajak hingga Rp 50 triliun jika windfall profit tax dikenakan. Kebijakan ini pernah dilakukan Amerika Serikat kepada perusahaan minyak yang beroperasi di dalam dan luar negeri pada 1970 dan 1980-an saat terjadi lonjakan harga minyak dunia. Saat ini, opsi mengenakan windfall profit tax ditempuh pemerintah Venezuela di bawah Hugo Chavez. Dari upaya tersebut, pemerintah Venezuela potensial menambah pendapatan negara hingga US$1,2 miliar.

    Keempat, pemerintah harus segera merombak patokan perhitungan subsidi BBM dari formula Mids Oil Platts Singapore (MOPS) plus alpha ke formula biaya pokok BBM Pertamina plus alpha. MOPS adalah harga minyak di pasar spot Singapura. Alpha adalah margin dari biaya distribusi yang diperoleh oleh operator pelaksana Public Service Obligation (PSO) BBM bersubsidi. Subsidi membengkak, antara lain karena patokan subsidi mengacu kepada MOPS, bukan kepada biaya pokok BBM dalam negeri.

    Dalam APBN 2008, subsidi mengacu kepada MOPS plus alpha 9 persen. Semakin besar alpha, semakin besar jumlah uang yang harus dibayarkan pemerintah kepada operator, dalam hal ini PT Pertamina (Persero) selaku pelaksana PSO, yang langsung diperhitungkan sebagai komponen subsidi dalam APBN. FKB mengusulkan mekanisme penghitungan subsidi dirombak, dari MOPS plus alpha 9 persen ke biaya pokok produksi BBM Pertamina plus alpha 5 persen. Cara ini akan melonggarkan APBN lebih dari Rp 9.534 triliun.

    Kelima, pemerintah harus segera merombak tata niaga migas dalam rangka menghentikan perburuan rente (rent seeking) oleh para mafia minyak yang telah menjerumuskan industri migas nasional ke jurang keterpurukan. Berkedok sebagai trader (broker), mereka ‘menggondol’ uang negara dengan mengutip margin minimal US$0,5-1,0 per barel dalam kegiatan percaloan ekspor impor BBM. Praktek ini dilakukan para calo yang mengambil celah sempit di antara mental korup para pejabat di lingkungan Pertamina dan pemerintahan.
    Praktek percaloan ini jugalah yang menjelaskan mengapa untuk sekian waktu yang lama, biaya impor BBM selalu lebih mahal ketimbang harga ekspor dengan selisih berkisar 0,68- 3,23 USD per barel. Untuk memotong mata rantai percaloan, FKB mengusulkan agar pengadaan BBM langsung diadakan PT Pertamina (Persero), tanpa menggunakan jasa trader, termasuk Petral, yang membuat biaya pengadaan BBM lebih mahal. Jika upaya ini berhasil dilakukan, negara akan menghemat lebih dari Rp 4 triliun. Upaya ini bisa dilakukan serentak dengan menambah kapasitas terpasang kilang minyak Indonesia yang selama ini hanya mampu memenuhi 75-80 persen kebutuhan BBM dalam negeri.

    Keenam, pemerintah harus segera mewujudkan diversifikasi energi, dengan cara mempercepat konversi penggunaan energi dari minyak ke gas, batubara, panas bumi dan energi alternatif lain seperti biofuel yang ramah lingkungan. Sektor energi Indonesia rentan terhadap pukulan harga minyak karena ketergantungan terhadap minyak sebagai sumber energi belum bisa direduksi. Saat ini, konsumsi energi final terhadap BBM masih mencapai 60 persen lebih.

    Sumber energi lain yang melimpah, seperti batu bara dan gas, belum dioptimalisasi untuk memasok kebutuhan energi dalam negeri. Dari kekayaan batu bara yang diperkirakan mencapai lebih dari 40 miliar ton dan mampu berproduksi selama 300-400 tahun, 70 persen dari produksi nasionalnya justru diekspor dalam kontrak-kontrak jangka panjang. Begitu pula, dari cadangan gas bumi yang mencapai 350 trillion cubic feet (tcf) dan bisa diproduksi selama 100 tahun, baru 50 persennya digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, selebihnya diekspor untuk kontrak-kontrak jangka panjang. Energi alternatif lain, seperti panas bumi yang mencapai 35 ribu Megawatt, baru didayagunakan kurang dari 10 persen. Sumber-sumber energi alternatif yang lain, seperti angin dan tenaga matahari, nyaris belum disentuh sama sekali.

    Jika kebijakan diversifikasi dan konversi ini berhasil dijalankan pemerintah sebagaimana janjinya 3 tahun silam, pemerintah tak perlu panik setiap kali harga minyak dunia naik. Konsumsi BBM dipastikan akan turun tanpa harus dibatasi secara ‘paksa’ oleh pemerintah. Upaya pembatasan konsumsi BBM pada level 35,5 juta kiloliter melalui kartu kendali (smart card) tidak akan efektif dan justru bisa menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian nasional. Pembatasan konsumsi BBM mungkin akan menghemat APBN Rp 10 triliun. Tetapi, membatasi BBM sama halnya membatasi kegiatan usaha dan dapat mengganggu perekonomian nasional, sebab penurunan konsumsi terjadi bukan karena efisiensi, melainkan karena restriksi.

    Ketujuh, pemerintah dapat menambah penerimaan negara dengan memobilisasi penerimaan dari sektor-sektor ekonomi yang selama ini hilang atau dicuri, baik melalui korupsi di berbagai instansi pemerintahan, BUMN, sektor-sektor underground economy, maupun penyimpangan dalam kontrak-kontrak pertambangan. Ada jalan lain agar BBM tidak dinaikkan. BPS (2006), misalnya, mencatat potensi kerugian negara dari kayu yang ditebang secara liar, ikan yang dicuri oleh nelayan-nelayan asing, pasir yang diselundupkan, mineral yang ditambang secara ilegal, berjumlah kurang lebih Rp 1.750 triliun, hampir tiga kali lipat APBN Indonesia.

    Jumlah itu sangat besar, yang jika berhasil diselamatkan bukan hanya dapat menombok subsidi BBM, tetapi juga bisa membayar lunas utang luar negeri Indonesia sebesar US$125.25 miliar (sekitar Rp 1250 triliun), menggratiskan pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi, menekan pengangguran dan mengatasi kemiskinan, memperbaiki kesejahteraan prajurit dan pegawai negeri sipil, serta memperkuat alutsista untuk pertahanan nasional.
    Kedelapan, pemerintah harus berani melakukan renegosiasi utang luar negeri, kalau perlu menuntut penghapusan atau minimal moratorium hutang untuk jangka waktu yang panjang (25-30 tahun). Cara ini lebih menyehatkan APBN, sebab dalam satu dekade terakhir, pembayaran utang luar negeri pemerintah telah menguras APBN terbesar, menghabiskan hampir dua kali lipat anggaran pembangunan, dan menelan lebih dari separo (52 persen) penerimaan pajak. Cara ini nampaknya tidak ditempuh pemerintah. Dalam APBN 2008, pemerintah justru merencanakan penambahan utang baru sebesar Rp 48 triliun dan penerbitan SUN, obligasi, dan sebagainya sebesar Rp 117 triliun.

    Delapan opsi alternatif ini bisa dipertimbangkan sebagai kebijakan strategis ketimbang pemerintah menempuh jalan pintas yang selalu menjadikan rakyat sebagai korban. Pemerintah jangan hanya berani melawan rakyatnya sendiri.
    Demi rakyat, pemerintah harus berani menghadapi kartel-kartel raksasa minyak dunia yang telah puluhan tahun mengeruk kekayaan alam Nusantara, para kreditor yang mencekik perekonomian nasional, dan para mafia minyak yang menggerogoti uang rakyat. Kalau perlu, mencontoh keberanian para pemimpin di Amerika Latin, pemerintah mempertimbangkan kebijakan nasionalisasi atas industri-industri strategis nasional di sektor energi dan pertambangan.

    kagem mas ridho: aku percaya dikau masih setia atas keyakinanmu dengan terus bekerja-belajar-berjuang he..he..!!!

  • ridhocyber
    21
    ridhocyber
    June 5th, 2008 04:40

    baladika @ he he yang mana tuh

    eenx @ kamu naik sepeda, naik sepeda motor maksudnya!

    pututik @ buat yang rumahnya deket sih, ya memag lebih baik dan lebih sehat jalan kaki

    Alimun Bidatisudur (Ali) @ untuk mas Ali, terima kasih atas penjelasan panjang lebarnya, memang saya tidak begitu mengerti masalah hitung2an pemerintah hingga menaikan harga BBM, tapi barusan saya baca di blog tetangga, dan ternyata kenyataannya kurang sesuai dengan apa yang anda jelaskan, informasi yang saya baca bisa anda rujuk di : http://roro77.wordpress.com/2008/06/04/subsidi-bbm-memang-benarkah-ada/

    Markus @ thanks for respond

    sugeng @ coba baca link rujukan yang saya berikan untuk pak Ali

    DimasCyber @ terima kasih untuk dukungannya!

    Arin @ mari kita buka pikiran dan nurani kita, dan cari solusi terbaik!

    Nuklea @ Terima kasih untuk 8 opsi menjawab BBM Naik

  • roro
    22
    roro
    June 5th, 2008 05:53

    yaa.., memang selalu ada dua sisi mata uang dari sebuah keputusan. ada yang melihat dari sisi ini, dan juga sisi itu. dan keduanya ga ada yang bisa dipersalahkan.

    saya dulu juga mendukung kenaikan BBM ini, karena hal ini menurut saya adalah sesuatu yang wajar jika dibandingkan dengan keadaan dunia saat ini. namun saya akui, semua ke-setuju-an saya itu tidak dilandasi oleh pengetahuan yang benar tentang pengaturan harga BBM dan dampak-dampaknya di masyarakat. keputusan saya untuk mendukung hanya murni berdasarkan logika (dan mungkin ini terjadi pada sebagian besar cara berpikir masyarakat). dan ketika saya menemukan data baru, saya menjadi bertanya apakah tepat kenaikan BBM ini?

    apapun yang ada di pikiran kita sekarang ini, saya pikir kemampuan kita hanyalah sebatas berkomentar dan mengkritisi. yang sudah naik ya akan tetap seperti itu, karena kita hanyalah rakyat yang mengikuti aturan pemerintah.

    oleh karena itu,, daripada mahasiswa demo sana sini bikin bentrok dimana-mana, ayolah kita kasi support ke masyarakat biar lebih percaya diri dan lebih giat dlm berusaha melewati masa sulit ini. kasi kontribusi yang konret, bukan dengan asal cuap n demo.

    moga masa2 sulit ini cepat terlewati…

  • Alimun Bidaisudur (Ali)
    23
    Alimun Bidaisudur (Ali)
    June 5th, 2008 16:56

    He..he…, dengan rasa hormat saya hargai upaya penyajian slide yang diberikan mas Ridlo… http://roro77.wordpress.com/2008/06/04/subsidi-bbm-memang-benarkah-ada/

    Tetapi, saya harus memberikan tanggapan yang proporsional utuk itu.

    Jika pun data yang diberikan itu benar adanya, maka perlu saya jelaskan:

    Dalam akuntansi (sy bukan orang akuntansi, tapi sedikit banyak belajar akuntansi), dengan tujuan penyajian laporan keuangan yang lebih adil, obyektif dan informatif maka baik untuk sisi pengeluaran maupun sisi pemasukan (pendapatan) harus ditulis sesuai dengan nilainya sekarang (present value)

    BBM juga demikian, harganya atau nilai sekarangnya harus dilaporkan sebagai ssi pemasukan (pendapatan) negara dulu, ini fair (jadi dihitung dengan harga berlaku atau nilai barangnya sekarang, harga minyak sekarang). kemudian ditambahkan dari pemasukan2 yang lain seperti sektor pajak dan sebagainya. Nah, pada saat yang sama diinvertarisir keperluan pembelanjaan negara termasuk belanja rutin dan belanja yang sifatnya produktif, jika keperluan belanja defisit akan diambilkan opsi hutang, misalnya.

    Apa konsekuensinya??

    Ya, kalo dibandingkan dengan harga minyak US$ 90/barrel sebagaimana yang pernah diasumsikan dalam APBN ya, negara rugi karena proyeksi pendapatannya tidak akan sebesar yang dipehitungkan

    Kalo sudah demikian, apa yang akan terjadi….

    Konsekuensinya adalah sebenarnya terjadi hilangnya kesempatan bangsa atau negara yang diwakili pemerintah untuk memanfaatkan momentum peningkatan pendapatan ini untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemajuan perekonomian….

    Ingatkan kita tentang jalan2 yang berlubang yang menyebabkan high cost pada industi manufaktur kita sehingga sulit bersaing dengan produk luar….

    Sekolah-sekolah di pelosok yang tidak terawat bahkan nyaris ambruk……

    Tingkat kematian Ibu melahirkan yang termasu tertinggi di dunia…..

    Bayi gizi buruk di mana-mana…..

    Lihatlah bagaimana negara-negara maju mampu memberikan jaminan hidup yang jauh lebih layak kepada rakyat miskinnya….

    Alokasi anggaran pendidikan 20% sulit direalisasikan…..

    Kita nggak bisa berbuat banyak selama ini mengapa?. Karena kita nggak punya cukup uang Bung (Itu saja)….

    Jadi, kalo anda atau mahasiswa berteriak2 alokasi pendidikan 20% itu, ya pemerintah nggak bisa berbuat banyak…Karena nggak ada cukup uang..

    Bahkan kejadian krisis moneter pertengahan tahun 1997 lalu, yang berkembang menjadi krisis ekonomi dan mencapai puncaknya menjadi krisis multidimensional, yang dimulai dari jatuhnya mata uang Bath Thailand kemudian berimbas pada Indonesia nggak bisa dicegah, kenapa?

    Karena kita nggak punya cukup uang untuk mengintervensi perdagangan valas, sehingga nilai tukar rupiah jatuh jauh dari nilai psikologisnya yang pada saat itu hanya sebesar sekitar Rp.2000-2500 menjadi menembus 10.000 bahkan di atas 15.000 dan konsekuensinya inflasi malah tak terbendung lagi, susah diatasi. mau terjadi seperti itu lagi. Nggak???, ya konsekuensinya negara harus memilii cadangan devisa yang lebih dari cukup….

    Nah, inilah yang dimaksud pasal 33 UUD 45 tentang kekayaan alam dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

    Jadi hasil dari nilai atau harga sekarang minyak kita (kekayaan alam dalam pasal 33) jangan hanya dihambur-hamburkan hanya untuk konsumsi BBM tetapi dialokasikan pada sektor yang lebih produktif, yang akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar (sebesar-besarnya, dalam pasal 33). Ini yang dimaksud dengan anggaran belanja dan pendapatan yang mampu menjadi leverage (pengungkit/pendongkrak) perekonomian negara..

    Sedikit komentar dari data yang saya dengar dari Pak Kwik Kian Gie itu, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada beliau…

    Pak Kwik hanya melihatnya dari aspek yang sangat sempit (harga BBM saja), itu yang saya maksud dengan pandangan yang setengah2 atau parsial dalam komentar saya terdahulu

    sekian dulu…ya…

  • Alimun Bidatisudur
    24
    Alimun Bidatisudur
    June 10th, 2008 15:37

    Maaf ya, beberapa hari ini saya ada keperluan ke Jombang jadi belum sempat ngasih komentar……………..

    Menarik sekali komentar yang diberikan Sdr Nuklea di atas. Banyak hal yang saya sepakat dari apa yang telah disampaikan (terutama 8 point langkah strategis). Namun beberapa hal yang fundamental dari apa yang disampaikan di atas menurut saya tidak relevan………..

    Pertama, pada dasarnya pembayaran bunga obligasi menjamin negara yang diwakili pemerintah untuk mendapatkan kepercayaan pasar modal agar negara memiliki akses yang sustainable pada sumber pemodalan dari hutang yang digunakan sebagai leverage perekonomian….

    Apakah hutang itu buruk atau sebaliknya mulia?. Tergantung dari cara penggunaan dan pengalokasian hutang….

    Dalam teori struktur modal (capital structure), penggunaan struktur modal yang optimal akan mampu memberikan dampak pada manfaat yang optimal dari penggunaan modal (misalnya, hutang) dan tingkat risiko modal yang dapat diminimalisir (misalnya pada hutang, risikonya adalah bunga hutang)…..

    Jadi tidak relevan membandingkan besaran bunga obligasi yang dibayar negara dengan subsidi BBM……

    Mengapa???. Karena manfaat dari hutang yang diperoleh dari menerbitkan obligasi digunakan sebagai leverage (pengungkit/pendongkrak) perekonomian, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat lebih tinggi dan menyebabkan penyerapan tenaga kerja akan lebih banyak lagi…..

    Coba bayangkan kalau pertumbuhan ekomoni rendah, maka anak-anak yang sudah lulus sekolah atau kuliah akan sangat kesusahan mendapatkan akses pekerjaan……………

    Anda bisa melihat dengan kasad mata, pertumbuhan ekonomi akan berdampak secara nyata pada penyediaan lapangan kerja……

    Sebagaimana bisa kita melihat sebagian lulusan SMA dan perguruan tinggi kita mendapatkan akses pekerjaan selama ini…..

    Jadi hutang itu fungsinya sebagai leverage…..

    Sebagai konsekuensi dari hutang yang telah memberikan manfaat kepada rakyat dengan menjadi instrumen pendongkrak perekonomian, maka kita harus membayar bunga hutangnya….

    Jadi posisi bunga obligasi bukan sebagai bentuk subsidi kepada orang kaya, akan tetapi sebagai biaya (risiko) yang harus dibayar kepada pemilik modal (menurut Nuklea, orang kaya) oleh negara atas manfaat yang telah diperoleh dari hutang yang diberikan oleh pemilik modal tersebut……

    Maka, sekali lagi tidak relevan membandingkan besaran bunga obligasi yang dibayar negara dengan subsidi BBM……

    Kedua, Nuklea menyebut pemerintah tidak jujur mengakui bahwa yang disebut dengan subsidi bukanlah cash transfer. Subsidi bukanlah uang tunai yang diberikan negara kepada rakyat. Subsidi adalah selisih harga yang dihitung dari minyak yang sebagian besar masih diambil dari perut bumi Indonesia terhadap harga minyak di pasar dunia yang ditentukan oleh NYMEX (New York Mercantile Exchange)

    Respon Ali: Perhitungan subsidi dengan cara seperti yang dilakukan pemerintah seperti yang disebutkan Nuklea adalah paling tepat….. Ini bukan sekedar masalah pandangan neoliberalisme sebagaimana yang disebutkan Nuklea. Tidak ada kaitannya….

    Mengapa???, (sebagaimana yang saya jelaskan pada komentar saya yang kedua) ini adalah cara yang paling fair (adil, obyektif dan informatif), dengan memberlakukan nilai aset saat ini (present value) pada bahan bakar minyak. Lho,…..

    Dengan memperhitungkan nilai sesungguhnya dari aset (minyak), maka akan dapat ditentukan rencana yang jauh lebih strategis untuk mengoptimalkan manfaat dari nilai aset (minyak) tersebut dibanding hanya membagi-bagikan (menghamburkan) minyak secara langsung kepada rakyat dengan nilai (harga) di bawah nilai (harga) minyak yang sesungguhnya….

    Menghamburkan minyak dengan membagikan langsung kepada rakyat hanya memberikan manfaat linier. Namun, jika minyak direlisasikan dulu dengan nilai sesungguhnya (dijual dengan harga pasar), maka manfaat (nilai harga minyak) tersebut dapat dialokaskan untuk berbagai keperluan yang jauh lebih produktif……yang akan dinikmati oleh rakyat dalam jangka panjang.

    Kalo dibandingkan dengan perusahaan, maka cara berpikir Nuklea itu merupakan paradigma perusahaan konvensional yang susah maju (karena cara memberlakukan aset secara linier), bukan perusahaan yang terbukti mampu berkembang maju dan menjadi besar…..

    Ketiga, tentang illigal fishing dan pembalakan liar.

    Memang, nilai ekonomisnya sangat besar. jika dilihat berdasarkan nilai aset dari ikan dan kayu yang dicuri. Namun jangan lupa, itu adalah nilai yang dijual oleh si pencui yang sudah memiliki pasar….

    Bagaimana dengan jika ikan dan kayu itu dijual negara….

    Ya, belum tentu menghasilkan uang karena pasarnya nggak ada…..

    Oh iya, kalo natural decline dari produksi minyak sudah menurun mulai tahun 1999, mengapa PKB yang notabene partai pemerintah pada masa Gus Dur tidak mampu berbuat banyak ya…..

    Kadang kali kita lebih pandai mengkritik…..

    Pada dasarnya saya sepakat dengan 8 point di atas, dan bukankah yang saya dengar pemerintah sekarang sedang mengupayakannya……

    Ok, sekian dulu ya…

  • Alimun Bidatisudur (Ali)
    25
    Alimun Bidatisudur (Ali)
    June 11th, 2008 21:59

    Maaf ya, setelah saya baca lagi pendapat Sdr. Nuklea, ternyata ada beberapa point fundamental yang belum saya luruskan terkait pemahaman yang tidak tepat dari Nuklea dan terlanjur berkembang di masyarakat.

    Tentang BLBI:
    Menurut Nuklea, …… “Bahwa rakyat bukanlah penikmat Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan obligasi rekap perbankan yang mencapai Rp 645 triliun lebih, melainkan para konglomerat hitam pengemplang uang negara, merupakan fakta yang tidak bisa dibantah”

    Respon Ali:

    Ini adalah pemahaman linier sederhana (simple) dan melahirkan konklusi yang tidak tepat. Anak kecil pun berpikir begitu…

    Mengapa…..

    Pada dasarnya peran dari perbankan adalah sebagai lembaga keuangan yang dijadikan sumber pembiayaan oleh kalangan usaha riil….

    Mekanismenya adalah mengumpulkan dana masyarakat melalui tabungan dan memberikan pinjaman kepada sektor usaha untuk meningkatkan kinerja usahanya

    Kenapa perbankan dibantu BLBI oleh pemerintah?
    Agar mampu beroperasi, perbankan harus dijaga kemampuan likuiditasnya…
    Jadi, bantuan BLBI itu dimaksudkan untuk menjaga kemampuan perbankan menyokong perekonomian dengan cara membantu kalangan usaha meningkatkan kinerjanya dengan memberikan bantuan hutang…

    Bantuan BLBI itu dilakukan ketika terjadi krisis ekonomi, dimana pinjaman yang diberikan pihak perbankan kepada kalangan usaha, banyak yang macet sehingga sangat mengganggu kemampuan likuiditas perbankan….

    Apa dampaknya…

    Kalo perbankan tidak liquid ya tidak dipercaya oleh nasabah, karena bank nggak bisa membayar klaim nasabah ketika akan menarik sebagian uang tabungannya dari perbankan…

    Akhirnya bank-bank pada gulung tikar, tiarap….
    Akhirnya Nggak ada bank, trus kalangan usaha dapat pinjaman darimana?, rentenir?

    Ibu-Ibu yang jualan di pasar yang biasanya ngutang di bank, mau cari pinjaman ke siapa…….rentenir?

    Parahnya lagi kalo nggak ada lembaga perbankan, akhirnya kinerja kalangan usaha akan turun berarti penyerapan tenaga kerja sangat rendah……

    Kalo penyerapan tenaga kerja rendah, gimana dengan anak-anak freshgraduate (baru lulus) SMA atau perguruan tinggi mau kerja apa…..

    Itu kalo hanya kinerja usahanya menurun…

    Tapi kalo kemudian bertambah parah, kalangan usaha menjadi bangkrut karena nggak ada sokongan dari perbankan misalnya…..

    Kan akan terjadi banyak lagi pemberhentian karyawan atau buruh yang terjadi dimana-mana….

    Penggangguran bertambah berlipat-lipat…

    Permasalahan sosial akan muncul dimana2 karena banyaknya pengangguran karena ketidakmampuan dunia usaha menyerap tenaga kerja atau bahkan melakukan pemecatan atau pemberhentian….

    Jadi sebenarnya peruntukan BLBI itu untuk rakyat kecil….

    Namun apa daya, sistem pengawasan di negara kita masih sangat lemah (itu dah dari jaman dulu, dari rezim ke rezim penguasa beriktnya) sehingga menyebabkan BLBI banyak yang diselewengkan, tidak digunakan sesuai dengan peruntukannya…..

    Tentang BLT

    Nuklea menyatakan, “Karena terjepit utang, pemerintah membohongi rakyatnya dengan menyatakan bahwa sebagian besar uang yang dihemat dari pengurangan subsidi BBM itu akan dikembalikan kepada rakyat. Padahal, dari Rp 25 triliun yang dikumpulkan dari penghematan subsidi, hanya 45 persen (Rp 11,5 triliun) yang dikembalikan kepada 19,1 juta keluarga miskin dalam bentuk BLT. Selebihnya untuk mereduksi defisit APBN dan membayar utang, sebagaimana diakui sendiri oleh Wapres Jusuf Kalla”.

    Respon Ali:

    Apapun bentuk alokasi dari penghematan BBM itu adalah untuk menjaga negara ini mampu melanjutkan hidup, pada tahun-tahun mendatang…..

    Memang untuk BLT tidak sebesar hasil penghematan BBM, karena sifat BLT sendiri yang temporer dan ditunjukan hanya menjaga guncangan seketika (sesaat) secara psikologis ketika BBM dinaikkan untuk rakyat pada level yang paling tidak mampu (paling miskin)…..

    BLT akan ditiadakan ketika kesetimbangan ekonomi yang baru mulai terbentuk, sehingga rakyat akan menjalani kehidupannya secara wajar sebagaimana sebelum BBM dinaikkan….

    Alokasi dari penghematan BBM yang lain diperuntukkan untuk program yang lebih produktif, misalnya padat karya, peningkatan jaminan kesehatan rakyat miskin, dan lan-lain….

    Alokasi penggunaan penghematan BBM untuk membayar bunga hutang (katakanlah jika ini benar, karena saya tidak mendengar sendiri dari sumber yang terpercaya) sebenarnya juga digunakan untuk menjaga kepercayaan pemilik modal yang membantu negara ini dengan memberikan hutang yang digunakan untuk menutup defisit APBN untuk mendongkrak perekonomian sehingga dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat maka daya serap tenaga kerja (orang miskin) semakin besar……

    Tentang dampak kenaikan BBM

    Menurut Nuklea, “Pemerintah menyatakan bahwa menaikkan BBM akan menolong rakyat kecil mengingkari fakta bahwa BBM adalah nyawa dari semua jenis industri yang memiliki dampak dua arah, terhadap produsen dan konsumen. Rakyat pasti akan terpukul oleh naiknya barang-barang, karena jika BBM naik, para pengusaha akan melimpahkan bebannya kepada konsumen. Dalam situasi di mana daya beli rakyat hancur, bantuan tunai sebesar Rp 100.000 tidak akan bisa menolong rakyat miskin dari keterpurukan”.

    Fakta itu memang tidak bisa disangkal. Itulah dampak (risiko) yang harus ditanggung kalo kita mau lebih baik lagi. Pilihan dimana2 mengandung risikonya sendiri2. Kalo nggak, nggak bakalan bikin orang pusing, putus asa, salah pengertian dan seterusnya…..

    Tetapi cobalah untuk melihat ke depan, inflasi tinggi kan terjadi setelah BB dinaikkan seteah harga BBM stabil lagi, inflasi akan terjadi pada level yang moderat, asal tidak ada pemicu inflasi tinggi lainnya….

    Nah setelah inflasi seperti sediakala, negara menikmati pendapatan yang lebih tinggi dari kenaikan BBM, sehingga lebih mampu membiayai pembangunan dibandingkan sebelumnya….

    Banyak anggaran yang bisa ditingkatkan dari peningkatan pendapatan BBM pasca kenaikan, anggaran pendidikan, kesehatan dan lain-lain….

    Pemberian Rp. 100.000,- per bulan itu lebih dari cukup untuk orang miskin, karena inflasi yang diharapkan sebagai dampak dari kenaikan BBM sebesar 10-12%. Artinya jika diberikan kepada orang yang berpendapatan Rp. 1.000.000,- per bulan pun itu mampu menolong orang tersebut secara umum untuk mempertahankan pola hidupnya seperti sebelum kenaikan BBM (Rp. 1.000.000 x 10% = Rp. 100.000,-)

    Apalagi kalau diberikan kepada orang miskin yang pendapatannya pasti di bawah 1 Juta….

    Misal si A pendapatannya 450.000 per bulan, maka kebutuhan hidupnya secara rata-rata akan meningkat menjadi Rp. 495.000,- per bulan, sementara dia mendapatkan bantuan 100.000, berarti masih lebih Rp. 55.000,-

    Nggak tahu, kalo yang dimaksud Nuklea “orang miskin” itu adalah yang termasuk pendapatannya di atas Rp. 1 Juta, pasti nggak tertolong……he…he….

    Itu dulu deh, ya…….

  • Alimun Budatisudur (Ali)
    26
    Alimun Budatisudur (Ali)
    June 12th, 2008 21:52

    Gimana mas Ridlo, puas dengan penjelasannya ???…..

    Kok nggak ada komentar lagi ya….

    Saya lagi nunggu kometar dari yang lain nih….

  • ridhocyber
    27
    ridhocyber
    June 13th, 2008 05:01

    roro @ yah kontribusi yang kongkrit itu lebih baik sepertinya

    Alimun Bidaisudur (Ali) @ terima kasih untuk tanggapannya

    Alimun Bidatisudur @ terima kasih, semoga sodara nuklea dan kita semua bisa menerima penjelasan dari sodara ali.

    Alimun Bidatisudur (Ali) @ terima kasih untuk penjelasan kedua tentang 8 opsi menjawab BBM Naik dari sodara nuklea, semoga bisa jadi bahan pertimbangan juga untuk kita semua dalam menyikapi isu berkembang saat ini

    Alimun Budatisudur (Ali) @ jujur sekarang saya jadi semakin tau, karena penjelasan panjang dari sodara ali, nuklea dan teman teman lainnya.

    namun jujur juga, secara saya yang awam sekali. saya bingung, karena penjelasan tiap tiap orang punya dasar masing masing, dan semua rasanya benar. dengan cara pandang masing masing.

    kalo sodara ali tanya ke saya puas apa gak, saya puas kalo dengan segala kebijakan yang di jelaskan di atas bisa membuat semua masyarakat bisa hidup lebih baik.

    dan saya agak penasaran, sodara Ali ini siapa yah? kok sepertinya sangat menguasai materi :)

  • Alimun Bidatisudur (Ali)
    28
    Alimun Bidatisudur (Ali)
    June 13th, 2008 18:57

    Terima kasih mas Ridlo…

    He…he.., saya orang biasa mas Ridlo…., yang mungkin bahkan saya kira mas Ridlo lebih beruntung dibanding saya…..

    Namun, saya merasa tidak nyaman jika ada penilaian terhadap siapapun (yang saya ketahui tentunya) ditempatkan menjadi tidak proporsional dan profesional.

    Salam kenal mas Ridlo, semoga ada komentar yang menarik untuk saya komentari di kemudian hari dari website mas Ridlo ini….

    Oh iya, mas Ridlo satu lagi….

    Untuk menilai apakah segala kebijakan yang di jelaskan di atas bisa membuat semua masyarakat bisa hidup lebih baik adalah dengan melihat beberapa hal yang menjadi permasalahan selama ini yang tidak kunjung terselesaikan, perlahan bisa diselesaikan…….

    Lihatlah nanti, akibat peningkatan pendapatan dari kenaikan BBM (yang seharusnya sejak jaman orde baru sudah mencapai harga pasarnya, namun karena selalu didemo, maka kenaikannya tidak sebesar yang diharapkan), akan banyak membantu pembangunan infrastruktur, menyokong pendidikan, dll….yang selama ini tidak bisa diselesaikan….

    Kalo kita hitung, kenaikan BBM 100% berdampak inflasi sebesar 17%. tapi kenaikan BBM 28,5% kemarin menyumbang inflasi sebesar 10-12%, maka kenaikan berkali-kali BBM dalam jumlah yang kecil justru merugikan kita, inflasi justru berlipat-lipat….

    Untuk mencapai kenaikan 100% katakanlah, dengan cara kenaikan bertahap 28,5%, maka inflasinya jika diasumsikan flat saja akan sebesar (10%-12%)x(100%/28,5%) = (10%-12%) x (3,5 kali) = 35%-42% (lebih besar kan dampaknya jika dibandingkan kenaikan sekali 100%)

    Itu jika dihitung secara flat, padahal faktanya tidak demikian, yang terjadi adalah inflasi yang lalu juga mengalami inflasi berikutnya, jadi semacam inflasi majemuk (inflasi berinflasi)…., sehingga dampaknya akan jauh lebih besar dari 35%-42%, jika dinaikkan secara bertahap…

    Itu adalah harga yang harus kita bayar akibat pemerintah “dipaksa” mendengarkan atau mempertimbangkan tekanan dari komentar-komentar yang ada selama ini…

    Coba, jika BBM mencapai harga pasar sejak dulu, maka tidak perlu ada inflasi tinggi saat ini akibat kenaikan harga BBM. Bisa jadi pemerintah masih mampu menjadikan sisa pendapatan yang terkumpul dari penjualan BBM sejak dulu itu, digunakan sebagai buffer (penyokong) fluktuasi harga minyak dunia…..

    Di samping itu, permasalahan yang tidak tersentuh oleh pemerintah (karena tidak cukupnya anggaran) dan di berbagai media selalu diberitakan pemerintah mengabaikan hal itu, segera bisa diperbaiki sejak jama dulu kala……

    Orang selalu mengeluh mengapa kita, negeri yang memiliki kekayaan alam luar biasa tidak bisa menjadi makmur sejak dulu….

    Ya, karena banyak orang yang “meminta dan memaksa” secara tidak sadar, kekayaan alam kita dibagikan secara murah kepada mereka (BBM contohnya)… akhirnya negara ini tidak mampu membangun dengan jauh lebih baik…… Pendidikan terbengkalai, infrastruktur hancur dimana-mana dan seterusnya….

    Coba bayangkan kalau kekayaan alam itu, direalisasikan sesuai dengan nilai (harga)nya sejak dulu…

    Khan bisa digunakan sebagai modal pembangunan, pemerintah bisa berbuat banyak untuk memperbaiki negara ini (asal para aparatur negaranya juga bertanggung jawab, maksudnya secara keseluruhan, karena korupsi itu banyak terjadi di level pelaksanaan, artinya pejabat yang bertanggung jawab secara operasional bukan dari sisi kebijakannya)….

    Thanks, saya pamit dulu ya….

  • nuklea
    29
    nuklea
    June 13th, 2008 20:28

    Menurut mas Ali:

    Pada dasarnya peran dari perbankan adalah sebagai lembaga keuangan yang dijadikan sumber pembiayaan oleh kalangan usaha riil….
    Mekanismenya adalah mengumpulkan dana masyarakat melalui tabungan dan memberikan pinjaman kepada sektor usaha untuk meningkatkan kinerja usahanya

    menurut saya:
    Tapi kenyataan yang terjadi tidak digunakan untuk kegiatan produktif yang menyerap lapangan kerja/padat karya berupa pendirian dan perluasan pabrik, infrastruktur tapi justru dikerjasamakan dengan kaum spekulan yang memainkan saham, valas, reksadana, obligasi, SUN dan instrumen lain termasuk option derivatif yang mengakibatkan economic overheating yang kalau bangkrut bisa mengulang siklus Argentina di tahun-tahun 80-an yang bangkrut.

    Menurut mas Ali:
    Apapun bentuk alokasi dari penghematan BBM itu adalah untuk menjaga negara ini mampu melanjutkan hidup, pada tahun-tahun mendatang…..

    Menurut saya:
    Penghematan BBM bukanlah soal mengulur nafas, tapi kemampuan untuk mencarikan energi alternatif non fosil. Kalau sekadar dihemat dengan matikan mesin/listrik di mall-mall, istana negara, gedung-gedung pemerintah, perempatan jalan atau pemadaman bergilir ala PLN tak ubahnya menyiram garam di lautan, mengingat konsumsi kebutuhan energi di masyarakat tak bisa dihindari.

    Menurut mas Ali:
    Pemberian Rp. 100.000,- per bulan itu lebih dari cukup untuk orang miskin, karena inflasi yang diharapkan sebagai dampak dari kenaikan BBM sebesar 10-12%. Artinya jika diberikan kepada orang yang berpendapatan Rp. 1.000.000,- per bulan pun itu mampu menolong orang tersebut secara umum untuk mempertahankan pola hidupnya seperti sebelum kenaikan BBM (Rp. 1.000.000 x 10% = Rp. 100.000,-)

    Menurut saya:
    Harus kita tangkap esensinya bung, ketika 100.000 diberikan ke rakyat yang kemudian dibelanjakan oleh rakyat secara otomatis yang disubsidi adalah stabilitas di pasar, lebih dalam lagi kalau kita cermati adalah justru negara yang mensubsidi orang kaya.

    Menurut mas Ali:
    Kalo kita hitung, kenaikan BBM 100% berdampak inflasi sebesar 17%. tapi kenaikan BBM 28,5% kemarin menyumbang inflasi sebesar 10-12%, maka kenaikan berkali-kali BBM dalam jumlah yang kecil justru merugikan kita, inflasi justru berlipat-lipat….

    Menurut saya:
    Kenaikan BBM mau gradual atau sekonyong-konyong 100% ala anda tak menjawab inflasi komulatif pertahun, karena krisis energi telah menjadi kepentingan spekulasi pasar global bahkan disertai kekerasan yang berdarah-darah dalam penyerbuan sekutu ke Irak sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua setelah Arab Saudi.

    Ok sekian dulu..

  • Alimun Bidatisudur (Ali)
    30
    Alimun Bidatisudur (Ali)
    June 17th, 2008 04:20

    He…, he… senang nih saya ad respon dari Nuklea…

    Menurut Nuklea:
    Tapi kenyataan yang terjadi tidak digunakan untuk kegiatan produktif yang menyerap lapangan kerja/padat karya berupa pendirian dan perluasan pabrik, infrastruktur tapi justru dikerjasamakan dengan kaum spekulan yang memainkan saham, valas, reksadana, obligasi, SUN dan instrumen lain termasuk option derivatif yang mengakibatkan economic overheating yang kalau bangkrut bisa mengulang siklus Argentina di tahun-tahun 80-an yang bangkrut.

    Respon Ali:
    Faktanya apa yang disampaikan Nuklea itu tidak bisa dibantah, demikainlah adanya. Sebagaimana telah saya sebutkan dalam komentar saya sebelumnya dimana ada sisi negatif dari kebijakan ini yakni ketika tidak disertai dengan sistem pengawasan internal yang kuat pada saat eksekusi kebijakan dilakukan.

    Namun kita harus tetap fair dalam hal ini….(tidak disisipi kepentingan sempit partisan partai, yang menyebabkan kita menyembunyikan fakta positifnya secara sengaja atau tidak sengaja, sehingga yang mendapatkan informasi tersebut menjadi terdidik dengan baik)

    Pertama, siapapun pemegang pemerintahan dalam kondisi krisis ekonomi pada saat itu, maka akan mengambil kebijakan ini sebagai solusi terbaiknya karena semangatnya dan mekanismenya sebenarnya diarahkan secara tepat…

    Kedua, ini kebijakan yang terjadi di masa lalu maka tidak relevan untuk diungkit sekarang dan dijadikan sebagai bahan untuk mendisikreditkan kebijakan pencabutan subsidi BBM (atau saat ini paling tidak pengurangan subsidi BBM)….

    Ketiga, Nuklea tidak melihat fakta terkait dengan bahwa tidak semua perbankan menyalahgunakan fungsi sebenarnya dari BLBI dan sebagian besar perbankan masih mampu bertahan hingga saat ini serta masih mampu menyokong kebutuhan sumber pembiayaan alternatif yang diperlukan dunia usaha (selain menerbitkan saham, menahan sebagian laba dan menerbitkan obligasi) setelah mengalami kesulitan likuiditas karena terjadinya kredit macet yang signifikan…. Hal ini terlihat dari dampaknya, dimana sebagian calon tenaga kerja dari lulusan SMA dan Perguruan Tinggi kita (dalam kondisi sulit setelah krisis ekonomi saat itu) masih dapat diserap dunia usaha…

    Keempat: Dengan mampu bertahannya dunia perbankan sampai saat ini, banyak dari kita masih menikmati fasilitas dari produk perbankan (bayangkan jika pada saat itu tidak ada BLBI, apa yang terjadi…). Sektor usaha apa sampai saat ini yang tidak memanfaatkan jasa perankan, rasa-rasanya susah untuk dinafikkan peran perbankan yang mampu dipertahankan keberadaannya hingga saat ini mampu mengambil peran riil…

    Menurut Nuklea:
    Penghematan BBM bukanlah soal mengulur nafas, tapi kemampuan untuk mencarikan energi alternatif non fosil. Kalau sekadar dihemat dengan matikan mesin/listrik di mall-mall, istana negara, gedung-gedung pemerintah, perempatan jalan atau pemadaman bergilir ala PLN tak ubahnya menyiram garam di lautan, mengingat konsumsi kebutuhan energi di masyarakat tak bisa dihindari.

    Respon Ali:
    Tidak ada yang salah apa yang dikatakan oleh Nuklea. Pertanyaannya adalah bukankah pemerintahan saat ini yang mampu merealisasaikan apa yang dikatakan Nuklea itu dalam bentuk kebijakan riil…. Meskipun dalam taraf pelaksanaannya masih banyak kendala yang dihadapi di lapangan sehingga relaisasinya belum terlihat nyata…di samping itu, kebijakan semacam ini kan butuh waktu dan biaya atau modal yang tidak sedikit untuk sampai pada kondisi yang diharapkan….

    Pada pemerintahan sebelumnya, wacana tentang energi non fosil hanya berada dalam domain sebagian para ilmuwan kita yang memiliki pemikiran kreatif dan berpikir ke depan…dan kurang mendapat respon dalam bentuk kebijakan riil pemerintah pada saat itu….

    Menurut Nuklea:
    Harus kita tangkap esensinya bung, ketika 100.000 diberikan ke rakyat yang kemudian dibelanjakan oleh rakyat secara otomatis yang disubsidi adalah stabilitas di pasar, lebih dalam lagi kalau kita cermati adalah justru negara yang mensubsidi orang kaya.

    Respon Ali:
    Saya sangat mudah memahami pemikiran Nuklea pada kedalaman ini. Tapi menurut saya, Nuklea terlalu membiarkan pikiran negatifnya berkembang terlalu jauh, ini tidak sehat untuk melahirkan penilaian yang lebih obyektif dan fair. Obyek BLT adalah orang miskin, maka yang diperhatikan adalah bagaimana dampaknya terhadap orang miskin, membantu atau tidak (sesuai dengan semangat kebijakan itu dibikin)…..sampai di situ dulu. Kalo membantu, ya terjawab sudah….

    Persoalan ekses kebijakan, yang dikatakan oleh Nuklea bahwa pada akhirnya BLT yang dicairkan dan diberikan ke rakyat yang kemudian dibelanjakan oleh rakyat secara otomatis yang disubsidi adalah stabilitas di pasar, lebih dalam lagi kalau kita cermati adalah justru negara yang mensubsidi orang kaya. Memangnya tidak boleh BLT kemudian memiliki dampak lain, yang juga positif (kalo dilihat dengan cara berpikir yang positif, tentunya) yakni mampu menjaga stabilitas di pasar, kan ini berati justru berita baik juga. karena pasar yang lebih stabil akan memberikan kontribusi yang nyata bagi pengendalian inflasi berikutnya, sehingga penderitaan rakyat tidak berlarut-larut dan tetap memastikan tidak terjadi PHK terhadap buruh….. Dan lagian, semangat dari kebijakan itu untuk meringankan beban rakyat miskirn kan terealisasi…

    Menurut Nuklea:
    Kenaikan BBM mau gradual atau sekonyong-konyong 100% ala anda tak menjawab inflasi komulatif pertahun, karena krisis energi telah menjadi kepentingan spekulasi pasar global bahkan disertai kekerasan yang berdarah-darah dalam penyerbuan sekutu ke Irak sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua setelah Arab Saudi.

    Sekali lagi saya tegaskan, kalo Nuklea hanya berbicara kenaikan BBM hanya dari BBM, maka hal ini jauh dari pemikiran saya…

    BBM adalah salah satu comparative advantages (keunggulan komparatif) yang dimiliki Indonesia dan kita begitu membanggakan kekayaan kita atas BBM. Tetapi kita lupa bahwa keunggulan komparatif itu tidak dapat bertahan selamannya (non renewable), maka dia (BBM) harus mampu difungsikan sebagai katalisator untuk meningkatkan keunggulan kompetitif (competitive advantages) bangsa ini, misalnya meningkatkan kualitas pendidikan, memperbaiki infrastruktur, mengingkatkan kemampuan pertahanan negara dan lain-lain sehingga akan mampu mempercepat dan memudahkan bangsa ini untuk berdaya guna dan memenangkan persaingan dengan bangsa2 lain. Tidak seperti sebelumnya, BBM hanya diposisikan sebagai buffer (penyokong) perekonomian yang fungsinya dipotimalkan hanya untuk menetralisir dan meredam kondisi perekonomian yang fluktuatif.

    Fungsi seperti ini terbukti tidak efektif, dengan harga BBM yang terus melambung, mengendalikan perekonomian dengan BBM akan memiliki banyak kendala dan keterbatasan…

    Dan lagi memposisikan BBM hanya sebagai buffer perekonomian, terbukti sejak kita merdeka sampai sekarang hanya mampu menolong urusan perut rakyat semata…dan sekarang terlihat peran itu mulai sangat sulit dilakukan….

    Lain halnya, jika kita memfungsikan BBM sebagai katalisator perekonomian, maka yang terjadi adalah rakyat tercerahkan dengan kualitas pendidikan yang sangat memadai sejak dulu karena dibiayai oleh penjualan BBM dengan harga pasar…

    Kalau kita bangga dengan kekayaan alam kita sebagai keunggulan bangsa kita dibanding dengan bangsa lain, dimana letak keunggulannnya bangsa kita itu kalau kemudian kekayaan alam (BBM) dijual dengan harga di bawah nilai ekonomisnya….

    Terkait dengan spekulasi pasar global bahkan disertai kekerasan yang berdarah-darah dalam penyerbuan sekutu ke Irak sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua setelah Arab Saudi.

    Memang ada indikasi ke arah sana, yang terpenting adalah kita bisa menetralisir dampaknya dan jsutru melihat ini sebagai peluang bagi bangsa kita…Saya tidak mau terjebak membicarakan masalah ekerasan yang berdarah-darah dalam penyerbuan sekutu ke Irak sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua setelah Arab Saudi.

    Terima kasih ya, saya tunggu tanggapan berikutnya….

  • Dali
    31
    Dali
    June 25th, 2008 21:25

    Wualaaahh… ngantri bensin berjam-jam, paling ngiritnya cuma beberapa puluh ribu perak. Gak worth it. Komennya panjang2 dan serius-serius banget ya? Huebat…

    Dalis last blog post..Upgrading My Blog

Berikan Balasan

2,971 views