Minggu, 20 Maret 2016

Belajar dari Dinamika Pra-Peperangan

Jika kita belajar kisah perang dua umat dalam Al Qur'an (Bani Israil dan Islam), kita bisa ambil pelajaran betapa pentingnya sebuah ketenangan, apalagi dalam kondisi perang. Perang dalam islam tidak hanya perihal dimensi ibadah, perang sekaligus mendefinisikan suatu keadaan. Dalam kehidupan sehari-hari, ada hal-hal yang sangat dikecam, bahkan merupakan dosa besar, namun dalam kondisi perang, hal tersebut bisa jadi suatu yang dihalalkan. Oleh karenanya, peran ketenangan dan kemantapan hati seseorang adalah suatu syarat yang tidak boleh dihilangkan, apalagi dalam menghadapi peperangan.

Perang Badar menjadi saksi bagaimana dinamika perang perdana yang luar biasa. Perang ini awalnya dimaksudkan untuk mencegat kafilah dagang Abu Sufyan, dikarenakan tercium adanya penguntitan, Abu sufyan meminta kiriman pasukan 1000 orang. Dari sini saja, sangat wajar jika 313 muslimin agak gentar dengan adanya tambahan pasukan yang datang. Tapi tentu keseluruhan pelajaran yang terjadi tidak sesederhana itu.

Sebelum memutuskan untuk mengubah rencana penyergapan menjadi konfrontansi peperangan, Rasulullah saw sangat paham pentingnya konsolidasi pasukan. Oleh karenanya, Nabi kita (saw) langsung mengumpulkan seluruh pasukan untuk ambil keputusan. Kira2 Rasulullah bertanya hal yang sama seperti ini 4 kali banyaknya.

"Wahai sahabat2, tujuan kita datang kesini sebenarnya untuk cegat kafilah dagang abu sufyan, namun akhirnya jejak kita ketahuan. Oleh karenanya, yg akan kita hadapi di depan adalah pasukan perang kiriman, kira2 bagaimana pendapat kalian?"

Tidak pikir panjang, rata2 dari muhajirin langsung bersemangat untuk melanjutkan ke medan peperangan. Yg unik, Nabi Muhammad saw bertanya hal seperti ini sampai 3 kali, hingga akhirnya Sa'ad sadar, bahwa nabi sebenarnya bukan bertanya kepada muhajirin yg memang punya banyak cerita lama bersama quraisy makkah, melainkan kepada kaum anshar yg kontrak mereka dalam membela Nabi hanya berbatas teritori kota Madinah.

Berdirilah Sa'ad ketika Nabi (saw) bertanya pertanyaan yg sama untuk ke-empat kalinya. Kala itu, Sa'ad meyakinkan Nabi bahwa dirinya bersama seluruh anshar yang lain akan terus ikut membela kaum muslimin hingga titik darah penghabisan.

Tentu hasil konsolidasi ini sukses besar, menghilangkan keraguan dan kegalauan di antara pasukan. Semua mantap, semua berangkat.

Sudah merupakan kearifan lokal, siapa yang pertama datang ke medan perang, berhak menentukan posisi mereka dan dimana lawan mereka nantinya. Jadi yang namanya sistem home-away dalam sepak bola itu sudah ada dari zaman perang dahulu kala. Tuan rumah yang menentukan kostum dan di sisi mana gawang mereka saat babak pertama. Jadilah kaum muslimin berada di bukit yang posisinya lebih tinggi, dan kaum kafir diposisikan di lembah bagian bawah.

Pada malam h-1 perang, kaum kafir yang tahu bahwa mereka menang secara jumlah fisik (pasukan, logistik, dan persenjataan), memilih untuk mengadakan pesta seolah kemenangan mereka berada di depan mata. Kaum muslimin malam itu sudah otomatis "nge-per" lihat musuh mereka sudah mulai merayakan kemenangan semu mereka. Hampir seluruh muslim kala itu cemas, gelisah, tidak terkecuali baginda tercinta kita. Hingga kita mengenal betapa syahdunya do'a Nabi Muhammad yang beliau lakukan pada malam yang genting itu.

Semua kita paham, tidak mudah berperang dalam kondisi keringatan, jadilah Allah turunkan rasa kantuk agar kaum muslimin bisa beristirahat dengan nyaman [Al Anfal:11]. Ini pertolongan kesekian yang Allah turunkan, ketenangan setelah kegelisahan.

Tidak selesai disitu, setelah seluruh muslim tidur dengan bantuan rasa kantuk, mereka semua kompak bermimpi bertemu pasangan masing2 dalam mimpinya. Masuklah godaan syaitan yang kembali menimbulkan kecemasan. Kira2, kala itu syaitan menggoda "apakah kalian berpikir akan mendapatkan syahid kala mati dalam keadaan janabah?". Pasukan bingung, tentu air untuk mandi besar tidak ada apalagi saat perang, jadilah mereka gelisah untuk kali kedua.

Tapi lagi-lagi kuasa Allah, berikan ketenangan kepada orang-orang yang dicintai nya.

"... dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)."  [8:11]

Sebelum kisah Badar pun, pertarungan tidak imbang antara thalut dengan jalut juga tidak lewat dengan karunia berupa ketenangan. Bani israil kala itu beda jauh kekuatan dengan militer Jalut, sang penguasa incumbent yang zalim luar biasa. Berkat kecakapan Thalut, bani israil berhasil menggalang kekuatan hingga ada kemungkinan menang. Terkumpulah 60.000 pasukan bani israil untuk menghadapi 70.000 pasukan Jaluth. Apadaya, karena ketidakpatuhan mayoritas pasukan, jadilah mereka yang siap hadapi Jaluth pada akhirnya hanya hitungan sepuluh ribuan.

10.000 vs 70.000, apa pertolongan yang Allah berikan? Lagi2 ketenangan...

"...Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. [3: 249]

Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir" [3: 250]

Kawan, ketahuilah, dari seluruh dinamika pra-peperangan, betapa banyak pertolongan Allah yang datang itu tidak jauh dari perkara hati yang tenang [8: 10], jiwa yang lapang [20:25], dan kokohnya pendirian [2:250]. Bagaimana dengan kita sekarang?
Share:

Senin, 14 Maret 2016

Etika Profesi


Bandung bagi saya pribadi bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu, ia juga melibatkan perasaan. Lol. Jelas bukan, maksudnya Bandung memiliki latar belakang sejarah yang cukup mengagumkan. Saya baru tahu belakangan bahwa daerah Ledeng di Bandung Utara itu dahulu digunakan Belanda sebagai sumber instalasi perairan. Adanya pipa-pipa berukuran besar ini yang kemudian membuat penduduk setempat menamakannya dengan daerah Ledeng. Menariknya, instalasi saluran air di daerah Ledeng masih berfungsi, setidaknya ini adalah karya nyata hasil dari APBD Belanda.

Ledeng adalah salah satu bukti nyata hebatnya performa Belanda dalam menjajah bangsa kita, tidak terhitung berapa jumlah jembatan, bangunan, termasuk pembangkit listrik yang sampai hari ini masih berdiri. Jika bukan dengan etika profesi yang tinggi, rasanya hampir mustahil artefak penjajahan itu dapat berdiri selama ratusan tahun lamanya. Memang tidak menarik bicara kecemerlangan sejarah, apalagi bukan karya negeri sendiri. Tapi apa boleh dikata, jembatan Kutai Kertanegara yang baru genap berfungsi 10 tahun saja sudah dapat menunjukkan bagaimana kualitas karya anak bangsa. Hal ini juga diikuti oleh infrastruktur serupa lainnya yang menunjukkan masih rendahnya kualitas rata-rata hasil karya generasi pasca proklamasi. Saya percaya ini bukan perkara teknologi, inilah alasan mengapa penting kita berbicara mengenai etika profesi. Salah seorang senior di PII yang telah berkiprah di banyak negara pernah bercerita, saat beliau membongkar dan meneliti hasil karya yang bertahan ratusan tahun di asia dan eropa, bisa dikatakan isinya itu ilmu semua. Setiap parameter yang ada diperhatikan dan nyaris tidak ada teori pada zaman itu yang lewat untuk diterapkan. Ini hal pertama, kepemilikan ilmu yang dalam, dan siap untuk diaplikasikan.

Di tingkat kedua ini kita perlu bicara pengalaman, jam terbang. Di negara kita, jam terbang itu paling banyak dimiliki oleh supir bus malam, oleh karenanya jangan heran kalau setiap tikungan mereka bisa tancap gas walau jalan depan tidak kelihatan. Ini jokes aja, pada intinya, suatu profesi memang tidak bisa dikuasai hanya dalam waktu semalam, seandainya bisa pun, itu namanya kuis atau ujian. Penting bagi seorang tukang untuk punya pengalaman, dan inilah misteri mengapa hasil karya orang Indonesia belum banyak yang bisa bersaing di kancah luar negeri. Alasannya, latar belakang keilmuan seseorang kadang kurang mendapat penghargaan di negeri sendiri. Setiap individu dinilai sebagai aset palugada "apa mau lu, gua ada", lihat saja pemangku kebijakan di negara kita, berapa presentase yang memang berlatar belakang sesuai dengan tangung jawabnya. Fokus itu penting, sebagaimana sindiran salah satu pengamat BUMN kita, "pertamina itu nanti sibuk bikin hotel lupa cara ngebor minyak". Oleh karena itu, santai aja, setiap keahlian pasti punya relung kebutuhan dan potensi yang berbeda-beda, jangan terlalu tergiur dengan hijaunya rumput tetangga.

Itulah narasi singkat tentang etika profesi, maaf jika agak ngasal dan tidak sesuai ekspektasi. Tulisan ini bukan untuk mencaci kegelapan, tapi percayalah, banyak diantara kita yang sudah memegang lilin, tapi tidak tau kenapa lilin tersebut harus dinyalakan. Intinya, setiap profesi itu berharga dan masing-masing dari kita perlu menekuninya dalam rangka membangun bangsa dan negara. Selamat dan terus semangat untuk bisa menjadi seorang ahli, apapun bidang yang sedang dan akan terus ditekuni.
Share: