Jumat, 07 Agustus 2015

Memahami Konsep Rizki


Saat ramadhan kemarin, saya berniat buka puasa di salah satu masjid di jakarta, kebetulan disana selalu menyediakan santapan buka gratis, yah lumayan lah porsinya

Seperti biasa, mendekati waktu magrib, pengurus masjid meminta para mu'takif untuk menunggu berbuka di plasa (pelataran) masjid, sambil mendengarkan kultum singkat, beberapa pengurus dibantu jama'ah membagikan makanan kotak secara estafet.

Singkat cerita, tiba2 banyak jama'ah dari luar masjid yang datang langsung ke pos panitia untuk mendapatkan makanan berbuka, lebih dari seribu paket makanan habis saat itu juga, praktis, para mu'takif (termasuk saya) yang rata2 sedang duduk menunggu di plasa dari sore banyak yang tidak mendapatkan makanan

Dengan perasaan yang sedikit kesal, saya akhirnya langsung beralih ke tempat wudhu, kebetulan tempat wudhu di samping saya adalah tempat khusus untuk orang dengan keterbatasan fisik, disana saya temukan seseorang sedang berwudhu dengan bantuan dua tongkat yang dibawanya, sama sekali tidak saya temukan ia membawa makanan, bahkan membawa air minum pun tidak. Jujur saya tidak tahu, bagaimana bisa seorang yang (maaf) pincang - yang bahkan bisa mendapatkan pelayanan khusus dari panitia, justru lebih memilih mengambil wudhu untuk bersegera menjawab seruan Rabb-nya

Ya Allah, betapa remeh dan kecilnya saya sebagai manusia
dalam diam mungkin beliau ingin menyampaikan, bahwa tidak ada kepentingan dunia sama sekali pada dirinya, saat banyak orang (termasuk saya) berharap dapat makanan berbuka, justru ia tidak peduli dengan itu semua

Terimakasih, karena saat itu saya belajar beberapa hal:

  • Bahwa tidak semua nikmat dunia adalah rizki, di saat yang sama ia bisa menjadi fitnah (ujian). Ada yang dengan kehebatan fisik menindas, adapula yang dengan keterbatasan fisik menjadikannya semakin dekat dengan Yang Maha Menciptakan. Kelapangan harta bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula menjerumuskan. Jabatan bisa menjadi manfaat, bisa juga hanya menjadi sarana maksiat. Mungkin kita harus lebih hati2 dengan apa yang sering dibahasakan sebagai "nikmat"
  • Rizki itu tidak hanya berupa materi, ia dapat berupa kelapangan hati, kemampuan untuk bersyukur, bahkan kemampuan untuk mengambil hikmah dan pelajaran
  • Allah itu maha adil, usaha dalam mencari rizki itu keharusan, tapi biar Allah yang menentukan, karena ganjaran atau ganti yang lebih baik sudah Ia siapkan
  • Berpikir dua kali sebelum mengeluh, karena sunggu betapa Allah telah lebihkan kita diantara sebagian yang lain, sesuai dengan kadarnya masing-masing
Semoga kita semua termasuk orang2 yang dimampukan untuk bersyukur dengan segala rizki yang ada. Aamiin.
"This dunya is like a shadow. If you try to catch it, you will never be able to do so. If you turn your back towards it, it has no choice but to follow you."
[Ibn Qayyim Al-Jawziy]
Share: