Kamis, 16 Juli 2015

Ramadhan 1436H: Sebuah Pesan



Jika berkaca pada era 80an, mungkin kita akan dapati masjid yang ramai di malam hari di 10 hari terakhir ramadhan hanya segelintir, jika boleh disebut, Masjid Al Hikmah Jakarta adalah salah satu pelopornya, jumlahnya pun tidak seberapa, apalagi parkirnya, mungkin bisa dihitung jari berapa kendaraan yang ada di sana...

Hari ini, kita lihat di malam2 ganjil masjid itu penuh sesak. sebutlah Masjid UI, kita akan tahu, jam 11 malam - 4 pagi itu parkir kendaraan mobil membludak, halaman parkir yang luasnya 1/2 bangunan masjid sudah tidak mempu lagi menampung mobil2 para mu'takifiin

agak ke tengah kota sedikit, kita akan lihat Masjid BI itu tidak kalah ramai, jam 2 pagi orang2 dengan gaya kelas menengah atas itu berbondong2 ikut Qiyamul lail hingga akhir waktu sahur. Ini tentu bukan perkara sederhana, belum lagi kalau kita lihat fenomena malam ganjil 25 ramadhan kemarin, sekian masjid besar di jakarta penuh diserbu para jama'ahnya. Dari sini, kita lihat i'tikaf tidak lagi hanya untuk kalangan tertentu saja, semua lapisan masyarakat hari ini bisa menikmatinya

muslim ini kalau soal trend kencengnya luar biasa, kemaren2 rame isu hijaber, setidaknya permasalahan hijab untuk foto ijazah bisa jadi kenangan lama, bahkan sekarang ada hijab yang harganya sampe 2jt, itu yang salah da'i apa mad'u nya? Ini joke aja, yang jelas, semangat membawa perubahan setiap waktu itu harus tetap jadi ciri khas kita. Ini pesan pertama, transformasi masyarakat itu dimulai dari usaha, selanjutnya, "Allaha yahdii man yasyaa.."

pesan kedua

Jujur, saya dulu smp di bogor, sma di jakarta, sekian taun pulang pergi pakai kereta (KRL), jadi sudah lumayan khatam terkait dinamika yang terjadi di dalamnya. KRL itu kalo lagi peak time luar biasa, banyak maksiat bisa ditemukan disana, kalau2 rutin ikut gerbong paling depan, perilaku2 penumpang yang rata2 sudah saling kenal itu bisa bikin anda geleng2 kepala, harus banyak dzikir karena tau anda sedang ada di salah satu jurang neraka.

Belom lagi kalo bicara fenomena "NaKer" (naik di atas kereta), saya pernah sekali dapet kereta yang para komunitas NaKer-nya itu lagi asyik tawuran di atas gerbong KRL, mantap gak :D. Kalo anda suka ikutin berita, aturan perkertaapian dari dulu sudah coba dimodifikasi sedemikan rupa, ga berhasil2 juga, dari mulai masalah tiket, jadwal, infrastruktur dll. Dengan sentuhan seorang Jonan, kebuntuan perkeretaapian menemukan pintu keluarnya, tidak hanya itu, bahkan sekarang ada gerbong khusus wanita,...

Ini poin kedua, kalo di Al Qur'an, islam banyak cerita "amr ma'ruf nahi munkar" kita akan belajar aplikasi dalam lebih luasnya dalam konteks bernegara: good governance. Sederhana saja, ibu hamil dan orang tua mendapatkan haknya, sistem administrasi PT KAI hari ini tertib luar biasa, walau arah pengembangannya yang cenderung kapitalis, ya tentu ini PR bersama, bisa ga orang dg ideologi Islam lakukan hal yang sama.

Dari masa nya khilafah rasyidin ke-5 kita belajar bahwa kesejahteraan masyarakat itu diawali dari kebijakan ekonomi yang menyebabkan kelimpahan produksi. Kebijakan pajak bumi, istilah sirahnya kharaj, mampu jadi stimulus fiskal yang wujudkan pendapatan per keluarga rata2 kala itu 40 dinar/bulan (80 juta, itu baru masyarakat menengahnya). Tanah tandus, pasir, ga ada minyak, bagaimana seluruh wilayah kekhilafahan bani umayah bisa kena dampaknya?

Di poin kedua ini saya bicara pentingnya kita menguasai kebijakan strategis, insyaallah lewat ramadhan ini pula akan lahir cendekiawan2 muslim yang master dibidangnya (amiin)

mungkin itu pesan singkat dari Ramadhan 1436 H yang coba saya tangkap. semoga bermanfaat.
Share:

Sabtu, 11 Juli 2015

Ramadhan: Dada yang Lapang, Jiwa yang Tenang



Jika bicara bulan ramadhan, maka sejatinya ia bicara perubahan. Dalam 5 ayat Al Qur'an yang membahas khusus tentang ramadhan [Al Baqarah: 183-187], ditemukan bahwa setiap akhir ayatnya selalu bicara bagaimana manusia itu berubah dari satu kondisi, menuju kondisi lain yang jauh lebih baik, dan itulah salah satu hakikat dari bulan ramadhan.
Dan itu pula sebaiknya yang terjadi pada diri kita: berubah

jika kita melihat kasus yang hangat beberapa waktu lalu, kita belajar bahwa dalam diri manusia ada yang disebut nafs, dalam Al Qur'an itu sendiri disebutkan ada 3 jenis nafs:

nafs 'amarah bissuu [Yusuf: 53]
nafs lawwamah [Al Qiyamah: 2]
dan nafs al muthma'innah [Al Fajr: 27]

dari sini, setiap kita punya 3 elemen utama, salah duanya yaitu ruh dan jasad. Jika kita urutkan, jenis nafs yang pertama (amarah bissuu') adalah kondisi ketika nafs lebih dekat pada jasad, oleh karenanya dia hanya bicara bagaimana memenuhi semua yang diinginkan jasad, orientasinya hanya perut dan apa2 yang ada di bawahnya. dari sini kita lihat timbul berbagai kerusakan, ketamakan, hingga degradasi moral yang baru2 ini kita saksikan: LGBT, pun dari [Yusuf: 53] kita belajar bahwa yang diselamatkan dari nafs 'amarah bissuu hanya orang2 yang diberi rahmat.

oleh karenanya, jangan heran kalau kita lihat kerusakan2 semacam ini tetap ada pendukungnya. di bagian ini saya tidak mau bicara banyak, toh kebathilan akan menemukan kehancurannya sendiri dan itu pasti [Al Isra: 81]. tugas kita hanya menyampaikan dan terus memberi peringatan. [Al Ghaasyiah: 21]

nafs yang kedua ini lebih baik dari yang pertama, tapi ia masih labil. terkadang, nafs nya masih dipengaruhi oleh kebutuhan2 jasadnya, namun tetap saja nafs jenis ini bukan cita2 kita, karena berdasarkan [Al Qiyamah ayat 2] dia masih digolongkan sebagai nafs yang "tercela" bagian ketiga ini yang paling langka: nafs muthma'innah

nafs jenis ini hanya dapat terjadi jika ruhani menjadi pengendali seluruh tingkah laku manusia, secara sederhana, nafs muthma'innah ini sangat erat kaitannya dengan ibadah shiyam yang kita lakukan.

jika kita lihat ibadah shiyamnya Maryam (Ibu dari Nabi Isa as.) dalam surat [Maryam ayat 26], kita akan tahu bahwa ada dua hal yang secara langsung disebut berkaitan dengan ibadah shiyam:

- hati yang sejuk (qorri 'aina)
- menahan dari berbicara (lan ukallima)

dari sini juga kita belajar mengapa ibadah shiyam itu pada esensinya bukan (hanya) menahan dari apa2 yang kita makan, bukan hanya bernilai lapar dan haus semata, karena pada hakikatnya, pada ayat ini mengajarkan kita bahwa esensi dari ibadah "shiyam" yang dilakukan Maryam murni bicara hati, ruhani, dan kemampuan mengendalikan diri. saya hanya ingin membahas di poin pertama saja, bahwa ibadah shiyam harus mampu menjadikan kita memiliki jiwa yang sejuk, nafs muthma'innah. pun jika ingin bicara di poin kedua, saya kira cukup banyak hadist yang membahas terkait hal ini di poin pertama yaitu qorri 'aina, tentu ada syarat utama, kelapangan dada, itu pula mengapa Allah ingatkan hal ini pada Nabi Kita, Rasulullah SAW, Kami lapangkan untukmu dadamu [Al Insyirah: 1].

Sharhu shadr ini kalo diibaratkan seperti lautan, dia bisa menampung berbagai macam kebaikan atau keburukan sekalipun, tapi tidak merubah sifat sejatinya Kita tahu lautan itu mampu menampung berbagai macam jenis air, kotoran, bahkan limbah, tapi pernahkah kita lihat seluruh air laut itu berubah menjadi kotor? tidak, karena semua kotoran itu terlalu kecil jika dibandingkan dengan keluasan yang dimilikinya.

dengan dada yang lapang, ketenangan hidup kita dapatkan

Oleh karena itu pula, ketika kita baca sejarah Nabi kita, beliau dicaci, dihinakan sedemikian rupa, hingga diberikan kotoran unta dalam shalat, namun tidak berpengaruh sedikitpun dalam perangainya. Inilah contoh hati yang lapang, yang terlalu luas untuk bisa kita mengerti sebagai sesama manusia. Dari sini dapat kita mengerti, mengapa ketika Nabi Musa diperintahkan untuk mendakwahi pembangkang paling besar di masanya (Fir'aun), sebelum meminta untuk dipermudah dalam urusan, sebelum meminta difasihkan dalam lisan, beliau meminta sharhus shadr, dada yang lapang.

Inilah do'a yang (mungkin) selama ini kita ucapkan, tapi urgensinya luput dari pandangan:
رَبِّ اشرَح لى صَدرى (Thaha: 25)
"Ya Allah, lapangkanlah untukku dadaku..."

Semoga kita semua berhasil memiliki dada yang lapang, untuk akhirnya menjadi jiwa-jiwa yang tenang. Aamiin.
Share: