Sabtu, 12 Mei 2012

Hakikat Sebuah Ujian


Diantara kebiasaan Ust. Hudaibi (Mursyid 'Am Ikhwanul Muslimin ke II) ialah duduk bersila di dalam kamar penjara.

Pada suatu hari, Asy-Syasytari (Jendral kementrian mesir) masuk ke dalam sel beliau, tetapi Ust. Hudaibi tetap bersila dan tidak berdiri. Kemudian Asy-Syasytari marah lalu berkata "apakah kau senang menjalani hal ini hai Hudaibi?"

Ust. Hudaibi: Ya, saya menikmatinya.
Asy-Syasytari: Apakah Kamu senang melihat mereka? -sambil menunjuk para ikhwan- Aku telah membawa mereka ke penjara, aku timpakan cobaan dan pengusiran. Aku juga telah menyebabkan keluarga mereka menderita...

Ust. Hudaibi: Adakah salah seorang diantara mereka yang mengadu kepadamu? Jika ada salah seoarang diantara mereka yang mengadu kepadamu (mengeluh akan beratnya penyiksaan dalam penjara) maka datanglah kemari dan beritahukan kepadaku!

Asy-Syasytari pun terdiam.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? ..." (Al-Baqarah:214)

Saudaraku,

itulah yang dinamakan "ujian", hakikat pasti dari seorang aktivis yang menginginkan akhir yang baik (surga). masih ingatkah kita dengan pembantaian yang dialami saudara-saudara kita di Ambon, Poso dan belahan Indonesia timur lainnya?

Masihkah kita ingat, bagaimana muslim filipina (Suku Pattani) yang dijemur di tengah pasir pantai selama bulan ramadhan tanpa pakaian yang menutupinya?

Apakah kita lupa dengan muslim-muslim saat ini, di berbagai belahan dunia yang mengalami penyiksaan luar biasa, mulai dari muslim syiria, palestina dan wilayah timur tengah lainnya...

Saudaraku,

di tiap medan dakwah, punya ujiannya masing-masing. Di setiap akselerasi keimanan, punya kadar cobaannya masing-masing. adakah kita pedul akani sabda Rasulullah yang sangat mulia ini:

"Ujian akan terus menimpa seorang mukmin, laki laki dan perempuan, menimpa dirinya, anaknya, dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa"

[Diriwayatkan oleh Tirmidzi-2399:hadist hasan shahih, Ahmad(Musnad 2/287), Al-Hakim(al-Mustadrak 4/314), Imam Malik (al-Muwatha' 558)]

Inilah jalan dakwah sahabatku, karena, setelah kesulitan itu ada banyak kemudahan...

Teruntuk, aktivis2 terbaik,
Ahad, 15 April 2012
Share:

Kamis, 10 Mei 2012

Dimana Kerendahan Hatimu, Wahai Aktivis Dakwah


"Sesungguhnya diantara raja-raja Surga adalah orang yg rambutnya berdebu, bajunya kumal(lusuh), tidak ada perhatian pada dirinya, bila mereka meminta izin utk masuk menuju para penguasa tidak diizinkan, bila mereka melamar wanita, lamaran mereka ditolak, bila mereka berbicara, tak ada satupun yg memperhatikan mereka sehingga kebutuhan-kebutuhan mereka tersendat didalam kerongkongan dadanya, namun pada hari Kiamat, jika cahayanya dibagikan kepada seluruh manusia niscaya dapat mencukupi mereka”

Hadist Rasulullah saw dalam Tafsir Ibnu Katsir Jilid 7-hal.210
Sahabat, adakah kita tahu, betapa banyak aktivis dakwah masa kini yang sering berkata seperti ini, “Sebagai aktivis dakwah, antum harus dikenal akh, antum harus punya prestasi yang membanggakan akhi, antum harus punya pengaruh disana-sini, antum harus….”

Mungkin, tak sedikit aktivis dakwah yang mengira ketika amalan-amalan baiknya dilihat orang lain, ketika kehebatannya menjadi perhatian orang lain, merasa itu menjadi bagian dari dakwah islam itu sendiri. Tapi, tahukah antum bagaimana seorang Al mawardi merahasiakan seluruh karya tulisan-tulisannya hingga ia meninggal dunia karena takut keikhlasannya terkotori? Bagaimana seorang tabi’in yang merahasiakan tangisan dalam shalatnya selama 20 tahun dari istrinya karena takut akan riya’?

Sahabat, menjadi aktivis dakwah tak cukup dengan aktif dalam organisasi keislaman, tak bisa diukur hanya dengan banyaknya mutarobbi binaan. Pernahkah kita bercermin, apa kata dunia Islam tentang diri kita? Tak sedikit aktivis dakwah yang berbangga dengan label aktivis mereka, berbangga dengan tingkat tarbiyah mereka, tapi apakah itu yang kita butuhkan? Apa mungkin Islam ini tegak oleh orang-orang yang banyak berbicara namun kosong hatinya?

Sahabat, menjadi aktivis bukan berarti menjamin keselamatan kita di akhirat, sekalipun dengan banyaknya orang yang masuk ke dalam jalan ini lewat tangan-tangan kita, bukankah telah sampai kepada kita sebuah ayat yang sangat tegas dalam al-qur’an,

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar : 65)

Lalu bagaimana bisa kita berdakwah dengan kecongkakan sebagai seorang aktivis, padahal kesombongan adalah kerabat yang sangat dekat dengan kesyirikan?
Sahabat, mari kita kikis keangkuhan kita yang mungkin ada karena status kita, status seorang aktivis yang notabene-nya sering menjadi tokoh di ranah-ranah strategis. Sudah saatnya kita sadari kembali, bahwa yang kita cari hanya semata-mata ridha Allah, bukan ridha manusia. Bukankah seorang ulama salaf, Sheikh Ibnu Taimiyah telah memperingatkan kita,

"Manusia yang terbaik adalah para nabi, maka orang yang paling jahat adalah orang yang meniru mereka (para nabi), namun mereka sebenarnya bukan termasuk golongan mereka sedikitpun, artinya mereka hanya meniru penampilan lahirnya saja".

Sahabat, jika kita masih bersikukuh dengan capaian prestasi-prestasi ubudiyyah kita, maka contohlah Hasan Al-Bahsri yang dengan ke-alim-annya masih dapat berkata "Saya takut Allah akan melemparkanku ke Neraka, tanpa mempedulikanku". Adakah hal itu melekat pada diri masing-masing kita?

Sahabat, janganlah kita berbangga hanya dengan status penyeru kebenaran dan pencegah kemungkaran, bukankah Usamah bin Zaid pernah mendengar sabda Rasulullah saw yang harusnya dapat menjadi pengingat bagi kita semua, segenap aktivis yang menyeru kepada kebaikan,

"Pada hari kiamat nanti di Neraka akan ada orang yang ususnya terurai, ia berputar di Neraka seperti keledai berputar dalam ikatannya. Para penduduk neraka yang mengililinginya mengatakan kepadanya, 'Wahai fulan kenapa kamu? Bukankah kamu dahulu di Dunia memerintahkan untuk berbuat kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar?' Ia menjawab, 'Benar aku memerintah untuk berbuat kebaikan, tapi aku tidak melakukannya, dan aku melarang perbuatan mungkar, tetapi aku melakukannya'." (HR. Bukhari Muslim)

Sahabat, mari kita bangun kembali kerendahan hati kita, menghinakan kembali diri kita dihadapan-Nya, teruslah mengemis hidayah sebagaimana do’a yang diajarkan oleh Rasulullah saw,

"Ya muqalibal qulub wa abshar tsabit qalbi ala diinika". (Wahai Yang membolak-balikkan hati dan penghilatan, tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu).
Lalu para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa, apakah kamu mengkhawatirkan kami?"
Beliau menjawab, "Ya. Sesungguhnya hati-hati itu berada diantara dua jari dari jari-jari ar-Rahman, Dia membolak-balikkan sekehendak-Nya". (HR. Ahmad)

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberi petunjuk. Amin
Share:

Selasa, 08 Mei 2012

Sebuah Keniscayaan, Perjuangan Tanpa Batas


Sahabat, inilah jalan dakwah, tak kan pernah berakhir selama hati masih suci, tak kan pernah berhenti selama nurani masih tinggal dalam jasad nan lemah ini. Cukuplah berfikir bahwa apa yang kita serukan belum sesuai dengan apa yang kita lakukan. Sahabat, jika antum berfikir untuk beristirahat karena malu dengan maksiat2 antum, malu dengan dosa2 antum, maka saya lebih pantas untuk mengundurkan diri dari jalan ini sebelum antum. Hanya dosa2 kita yang terlampau banyaklah yang menjadi alasan logis kenapa kita berjuang di jalan dakwah ini.

Sahabat, jalan ini, tidak hanya butuh kepahaman akan falsafah, tak hanya menuntut ketaatan pada qiyadah, pun hanya tentang strategi2 di tiap tantangan dakwah, namun juga perjuangan berkesinambuangan, perjuangan tanpa batas.

Sahabat, bukankah Rasulullah telah melaksanakan 27 pertempuran, yang semua pertempuran itu beliau alami setelah usia beliau lewat 54 tahun. Sekalipun perang Tabuk, perang yang paing berat bagi kaum muslimin, diikuti dan dipimpin langsung oleh beliau saat umur beliau 60 tahun!

Akh, bukankah telah kita dapati 'Amar bin Yasir, beliau berangkat perang saat usia beliau telah mencapai 90 tahun. Perang! bukan saja berdakwah, bukan mengajar orang2, atau cukup beramar makruf nahi munkar. Beliau berangkat perang saat tulang-belulang beliau sudah rapuh, tubuh telah renta, rambut telah memutih, dan kekuatan sudah jauh berkurang.

Tersebutlah Abu Sufyan masih membakar semangat para pasukan untuk berperang, saat beliau berumur 70 tahun. Pun dengan Yaman dan Tsabit bin Waqasy, keduanya tetap berangkat ke medan Uhud meski telah lanjut usia dan meski Rasulullah saw menempatkan mereka bersama kaum wanita, di bagian belakang pasukan.

Sahabat, di jalan ini, perjuangan tanpa batas dimulai,
cukuplah sajak ini mengakhiri tulisan sangat sederhana ini.

"Di jalan Allah kami tegak berdiri
Mencitakan panji-panji menjulang tinggi
Bukan untuk golongan tertentu, semua amal kami
Bagi dien ini, kami menjadi pejuang sejati
Sampai kemuliaan dien ini kembali
Atau mengalir tetes darah kami"

Teruntuk pejuang-pejuang terbaik,
Selasa, 8 Mei 2012
Share:

Jumat, 20 April 2012

Kriteria Seorang Pemimpin Sejati


Wah, kalau berbicara masalah "pemimpin", jujur saya juga masih mencari arti sejati dari kerakter ideal seorang pemimpin. Tapi, saya kira tidak salah apabila saya mencoba berbicara sedikit masalah pemimpin itu sendiri karena kita sebagai manusia memang memiliki kodrat sebagai pemimpin seorang dan juga sebagai orang yang dipimpin. Tak dipungkiri ketika kita berbicara masalah "pemimpin" logika sederhana kita akan berkata tentang kesempuranaan, loyalitas, kemampuan, dan lain-lain. Nah, pemikiran rendahan saya sekarang akan mencoba mendeskripsikan seorang pemimpin sejati berdasarkan pengalaman pendek yang saya miliki. Kira-kira garis besarnya seperti ini...

  1. Laki-laki, mengapa harus pria? jawabannya sederhana, Mereka cenderung memiliki emosi yang lebih stabil dalam beberapa keadaan dan bisa berfikir jernih dalam suasana keruh. Harus kita akui pula bahwa pria memiliki kecendrungan untuk mempengaruhi ketimbang dipengaruhi. Oleh karena itu, laki-laki menjadi syarat utama seorang pemimpin. Karen bagaimanapun juga laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Jadi saya rasa untuk yang satu ini sudah cukup jelas.
  2. Merangkul semua golongan, maksudnya adalah seorang pemimpin harus bisa berkomunikasi dengan baik pada setiap orang yang diimpinnya. Kita tahu bahwa setiap manusia memiliki sifat heterogen yang sangat tinggi. Dalam hal ini, penting bagi seorang pemimpin bisa berkomunikasi dengan baik pada setiap orang agar kehadirannnya sebagai figur "pemimpin" dapat diterima mayoritas anggotanya.
  3. Loyalitas, ketika kita berbicara mengenai kepemimpinan, tak dipungkiri tanggung jawab menjadi kata pertama yang mungkin muncul dalam benak kita. Loyalitas menunjukkan apakah seseorang itu merasa punya tanggung jawab lebih atau tidak, karena seorang pemimpin tak akan menjadi pemimpin yang baik sebelum ia berani mengorbankan sesuatu untuk organisasi atau kelompok yang dipimpinnya.
  4. Memiliki virus emosi, yang dimaksud virus disini adalah kemampuan untuk menularkan emosi positif secara brutal dalam waktu singkat kepada setiap anggotanya. Karena, semua hal yang kita lakukan tergantung dengan motivasi yang mendorong kita melakukan sesuatu. Semakin besar dan kuat dorongan itu, maka semakin baik pula hasil yang kita dapatkan. Minimal, ketika suatu pekerjaan didasari oleh semangat yang baik proses kerja juga dipastikan akan berlangsung positif. Oleh karena itu, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa mentransfer emosi dengan baik. Dalam hal ini kita berbicara tentang emosi positif tentunya.
  5. Mengenal medan, ketika seseorang sudah menjadi pemimpin, artinya dia telah keluar dari zona aman dari suatu kelompok, otomatis akan banyak rintangan yang akan ia hadapi kedepannya. Setidaknya, ketika seseorang telah mengenali masalah maka kemenangan awal telah ia dapatkan.
Mungkin itu sekedar kata-kata tanpa guna dari saya sebagai orang tambahan yang ada di muka bumi. Yang jelas, ketika kita berbicara masalah pemimpin, yang harus digasrisbawahi ialah masalah proses selama ia menjadi pemimpin. Kepemimpinan itu tidak bisa dilihat dari inputnya, tetapi bagaimana proses merubahnya menjadi seorang yang puya karakter kepemimpinan. Artinya, seorang pemimpin haruslah berkembang sesuai dengan kebutuhan anggotanya, bukan memaksakan kepemimpinan dengan semua kemampuan yang dimilkinya. Alasannya sederhana, "masalah" itu statis, ia harus diselesaikan sesuai dengan dimensi waktunya agar dapat terselesaikan dengan baik. Sekian dari saya dan terimakasih.....

 Kutipan hadits:
"Sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu." ( H.R. Muslim).
    Share: